Di stan Unitree Robotics, Sabtu (18/7), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto berdiri menonton robot humanoid dan quadruped berpatroli antar-stan, sebelum melontarkan kalimat yang jadi inti kunjungannya ke World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai: "China ini sudah luar biasa mereka dalam aplikasi dari AI maupun robotik, jadi ya Indonesia harus 'catching up' terhadap apa yang mereka lakukan" (ANTARA News). Dua hari sebelumnya, di kota yang sama, ia sudah membubuhkan tanda tangan yang lebih formal: menjadikan Indonesia salah satu dari sekitar 30 anggota pendiri World AI Cooperation Organization (WAICO) (CNN Indonesia).
Dua peristiwa itu — menonton dan menandatangani — mencerminkan dua kecepatan berbeda yang sedang dijalani Indonesia di panggung AI global: satu langkah diplomatik yang sudah tuntas dalam hitungan hari, satu ambisi industri yang baru dimulai dan akan diukur dalam hitungan tahun.
Yang Dilihat Airlangga di Lantai Pameran
WAIC 2026 berlangsung 17–20 Juli di Shanghai World Expo Exhibition and Convention Center, dan menurut penyelenggara menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah acara ini. Didampingi Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun, Airlangga tidak sekadar berkeliling menonton — delegasinya melakukan kunjungan benchmarking dan pertemuan langsung dengan sejumlah perusahaan teknologi China, termasuk Unitree Robotics, Deep Robotics, dan penyedia infrastruktur jaringan CICT-FiberHome (Bisnis.com).
Di stan Unitree, ia menyaksikan demonstrasi robot yang menurut perusahaan sudah dipakai secara komersial — bukan sekadar prototipe pameran — untuk inspeksi industri, patroli gardu listrik, hingga riset di sejumlah universitas dunia. Salah satu produsen yang dikunjungi delegasi Indonesia disebut mampu memproduksi hingga 50.000 unit robot AI, angka yang jadi ukuran seberapa jauh skala manufaktur robotika China sudah bergerak dibanding kapasitas domestik Indonesia saat ini.
Dari Menonton ke Menandatangani
Kunjungan pameran itu terjadi dua hari setelah langkah yang lebih mengikat: pada Kamis (16/7), Airlangga menandatangani perjanjian pendirian WAICO atas arahan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan dalam rapat terbatas 13 Juli (ANTARA News). WAICO sendiri adalah badan antarpemerintah baru dengan personalitas hukum internasional, dan setiap negara penandatangan otomatis berstatus anggota pendiri — Indonesia bergabung bersama sekitar 30 negara lain, sebagian besar dari kawasan Global South.
Pemerintah membingkai keanggotaan ini bukan sekadar simbolis. Menurut keterangan resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, WAICO akan dipakai sebagai kanal untuk memperkuat koordinasi antar-kementerian dalam mempercepat transformasi digital nasional, menyiapkan infrastruktur pusat data domestik, dan meningkatkan daya saing SDM di bidang AI (ekon.go.id). Dengan kata lain, forum ini diharapkan jadi pintu masuk kelembagaan bagi hal-hal konkret yang baru dijajaki Airlangga dua hari kemudian di lantai pameran.
Ambisi Transfer Teknologi dan Batu Uji Hilirisasi
Bagian paling konkret — sekaligus paling sulit dibuktikan — dari kunjungan ini adalah dorongan transfer teknologi. Airlangga menekankan perlunya perwujudan transfer teknologi serta potensi perakitan dan rantai pasok robotika di dalam negeri, agar sejalan dengan agenda hilirisasi dan pengembangan sumber daya manusia yang selama ini jadi jargon andalan kebijakan ekonominya (Bisnis.com).
Pola ini familiar bagi siapa pun yang mengikuti kebijakan hilirisasi nikel dan baterai Indonesia selama satu dekade terakhir: kunjungan pabrik, pernyataan optimisme "mengejar ketertinggalan", lalu negosiasi panjang soal skema investasi, alih pengetahuan, dan lokasi perakitan yang baru terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian. Bedanya, di sektor AI dan robotika, China sendiri masih dalam fase awal komersialisasi massal robot humanoid — jadi "mengejar" di sini bukan mengejar teknologi yang sudah mapan, melainkan ikut serta sejak lebih dekat ke garis start dibanding pada era hilirisasi mineral.
Belum ada nilai investasi, tenggat, atau nama pabrik yang disebut resmi keluar dari kunjungan ini — semuanya masih berstatus arahan dan niat kebijakan yang akan dilaporkan Airlangga kepada Presiden Prabowo, bersama hasil pertemuannya dengan Presiden Xi Jinping, Menteri Perdagangan Wang Wentao, dan Menteri Luar Negeri Wang Yi selama kunjungan ini.
Takeaway
Keanggotaan pendiri di WAICO adalah langkah yang sudah rampung dalam hitungan hari — tanda tangan, komunike, dan kerangka kerja sama sudah ada di atas kertas. Transfer teknologi robotika yang dibidik Airlangga adalah cerita yang berbeda: ambisinya jelas, tapi jarak dari "menonton demo di Shanghai" ke "lini perakitan robot beroperasi di Indonesia" jauh lebih panjang dan bergantung pada hal-hal yang belum diumumkan — skema investasi, kesiapan rantai pasok komponen, dan apakah perusahaan seperti Unitree benar-benar tertarik memindahkan sebagian produksi ke luar China. WAICO memberi Indonesia meja diplomatik; apakah meja itu berujung pada pabrik sungguhan adalah pertanyaan yang baru bisa dijawab dalam beberapa tahun ke depan, bukan dari kunjungan pameran satu akhir pekan.
Sumber gambar: Vishnu Mohanan di Unsplash Sumber gambar: Annie Spratt di Unsplash Sumber gambar: Austin Distel di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.