Amazon Tutup Mechanical Turk Setelah 21 Tahun, Korban Nyata Kemajuan AI

Selasa lalu, Amazon mengumumkan sesuatu yang terdengar seperti penutupan biasa tapi sebenarnya menandai akhir sebuah era: Mechanical Turk, marketplace kerja digital yang mereka luncurkan tahun 2005, akan dimatikan total pada 30 September 2026. Tidak ada rencana transisi. Tidak ada pesangon. Hanya pengumuman singkat ke ratusan ribu pekerja yang selama dua dekade mengerjakan "Human Intelligence Tasks" (HIT) — tugas-tugas kecil seperti pelabelan data, transkripsi audio, sampai isi survei — yang terlalu rumit untuk mesin tapi terlalu remeh untuk pegawai tetap. Ironisnya, platform yang pernah disebut Bezos sendiri sebagai "artificial artificial intelligence" ini kini justru dimakan oleh AI sungguhan yang dulu ia bantu latih (CNBC).

Dari andalan riset ke platform yang ditinggalkan

Mechanical Turk sempat jadi tulang punggung riset akademik dan machine learning selama bertahun-tahun — di puncaknya melayani lebih dari 500.000 pekerja yang mengerjakan HIT receh, dari beberapa sen sampai beberapa dolar per tugas. Julukan "artificial artificial intelligence" itu sendiri bukan sekadar candaan pemasaran — Bezos memakainya dalam wawancara dengan New York Times tahun 2007 untuk menjelaskan cara kerja platform ini: biasanya manusia meminta komputer melakukan komputasi, tapi di Mechanical Turk urutannya dibalik, komputer (lewat sistem) yang meminta manusia mengerjakan tugas yang belum bisa diotomatisasi (IEEE Spectrum). Tanda-tanda kematiannya sebenarnya sudah terlihat sejak awal Juli 2026, ketika Amazon berhenti menerima klien baru di platform tersebut — langkah yang banyak ditafsirkan pekerja sebagai sinyal penutupan akan segera menyusul (TechCrunch). The Register bahkan menulis judul yang cukup pedas soal ini: platform berhenti menerima klien baru, "dan bahkan AI pun tidak bisa menyelamatkannya" (The Register).

Yang membuat penutupan ini terasa kasar bukan cuma soal waktunya, tapi minimnya detail yang diberikan ke pekerja. Tidak ada linimasa migrasi ke platform lain, tidak ada kompensasi transisi — hanya tanggal mati dan ucapan terima kasih formal, menurut liputan Tech Startups yang mewawancarai sejumlah worker lama platform tersebut (Tech Startups).

Tiga orang duduk menggunakan laptop dan memperhatikan seseorang di dekat whiteboard
Tiga orang duduk menggunakan laptop dan memperhatikan seseorang di dekat whiteboard

Kenapa sekarang: startup data labeling merebut pasar

Alasan komersialnya cukup jelas kalau melihat lanskap kompetisi. Selama beberapa tahun terakhir, gelombang startup data labeling baru — Scale AI, Mercor, Prolific, dan sejenisnya — masuk dan merekrut pekerja langsung untuk kebutuhan pelatihan model AI generasi terbaru, menawarkan bayaran dan pengalaman kerja yang jauh lebih terstruktur dibanding antarmuka HIT Mechanical Turk yang nyaris tak berubah sejak 2005. Amazon sendiri tampak semakin jarang berinvestasi memperbarui platform ini seiring pekerja dan klien berpindah ke layanan-layanan baru tersebut.

Ada satu detail yang menjelaskan kenapa Mechanical Turk sudah kehilangan relevansinya sebagai sumber "kecerdasan manusia" murni: studi akademik dari peneliti Swiss tahun 2023 menemukan bahwa hingga 46% pekerja Mechanical Turk ternyata memakai model AI untuk menyelesaikan tugas mereka sendiri. Untuk platform yang nilai jualnya adalah input manusia asli guna melatih AI, temuan itu adalah masalah eksistensial — bukan cuma soal kompetisi harga, tapi soal apakah datanya masih bisa dipercaya sebagai "human-labeled" sama sekali.

Apa artinya buat ekosistem AI training

Penutupan ini bukan sekadar berita korporat biasa. Mechanical Turk selama dua dekade jadi infrastruktur diam-diam di balik riset NLP, computer vision, dan reinforcement learning — banyak dataset akademik terkenal dibangun di atas HIT yang dikerjakan pekerja platform ini dengan bayaran kecil. Contoh paling terkenal: ImageNet, dataset yang membantu memicu ledakan deep learning modern lewat kompetisi ILSVRC, dibangun dengan merekrut, mengelola, dan membayar tenaga pelabelan gambarnya lewat Mechanical Turk (IEEE Spectrum). Kompensasinya jauh dari layak — sebuah studi akademik 2017 menemukan median upah Turker sekitar $2 per jam, dan cuma 4% pekerja yang mendapat lebih dari $7,25 per jam, upah minimum federal AS. Ketika infrastruktur semurah dan seterbuka itu hilang tanpa pengganti resmi dari Amazon, beban berpindah penuh ke startup swasta yang modelnya lebih tertutup, lebih mahal per unit kerja, dan biasanya menuntut kontrak eksklusif dengan klien besar seperti lab AI raksasa — bukan pasar terbuka tempat siapa saja bisa memposting tugas kecil seperti dulu.

Bagi pekerja yang selama ini mengandalkan Mechanical Turk sebagai penghasilan sampingan, transisi ke Scale AI atau Mercor juga bukan proses yang mulus — platform-platform baru itu cenderung punya proses seleksi lebih ketat dan alur kerja yang menuntut spesialisasi, bukan sekadar registrasi terbuka seperti HIT lama.

Seseorang menggunakan MacBook Pro
Seseorang menggunakan MacBook Pro

Takeaway

Kematian Mechanical Turk adalah simbol yang pas untuk ke mana arah industri AI: platform yang dulu jadi mesin "kecerdasan manusia" murah untuk melatih algoritma kini justru terpinggirkan oleh AI generasi baru — sekaligus oleh startup yang lebih gesit menangkap kebutuhan pelatihan model modern. Tak ada rencana transisi bagi pekerjanya menegaskan pola yang makin sering terlihat: infrastruktur gig economy lama dibongkar cepat begitu nilai komersialnya habis, tanpa jaring pengaman untuk manusia yang selama ini menjalankannya diam-diam di balik layar.

--- Sumber gambar: Annie Spratt di Unsplash Sumber gambar: Austin Distel di Unsplash Sumber gambar: Glenn Carstens-Peters di Unsplash

The conversation 0

No comments yet. Start the conversation.

Comments are reviewed before appearing. Links are masked.