Pada 21 September 2026, Gubernur California Gavin Newsom menandatangani tujuh undang-undang sekaligus yang mengatur industri data center — paket regulasi paling komprehensif yang pernah dikeluarkan satu negara bagian AS untuk sektor ini. Isinya sederhana tapi tegas: perusahaan yang membangun fasilitas komputasi raksasa untuk melatih dan menjalankan model AI sekarang harus menanggung sendiri biaya upgrade jaringan listrik, dan wajib membuka data pemakaian air mereka ke publik (Governor of California, CBS News San Francisco).
Tiga Kelompok Aturan, Satu Tujuan: Lindungi Tagihan Warga
Ketujuh UU itu terbagi rapi dalam tiga kelompok. Tiga UU pertama memindahkan biaya upgrade infrastruktur listrik dari pelanggan rumah tangga ke operator data center itu sendiri — selama ini, ketika sebuah hyperscaler menambah kapasitas komputasi, biaya penguatan jaringan listrik di sekitarnya kerap ikut dibebankan ke tagihan listrik warga biasa lewat skema tarif kolektif. Salah satu dari tiga UU ini diajukan Senator Steve Padilla, yang secara eksplisit menyasar perlindungan pelanggan rumah tangga dari pembengkakan tarif akibat ekspansi data center (kantor Senator Padilla).
Tiga UU berikutnya mengatur keterbukaan sumber daya: AB 2383 menyasar pelaporan pemakaian listrik, sementara AB 2469 dan AB 2619 mewajibkan pengungkapan konsumsi serta rencana pasokan air. Salah satu di antaranya, AB 1577 yang diusulkan Anggota Majelis Rebecca Bauer-Kahan, mengharuskan setiap data center melaporkan pemakaian energinya ke California Energy Commission untuk dipublikasikan setiap tahun — data yang sebelumnya nyaris tak pernah dibuka ke publik. UU ketujuh mencabut kelonggaran tinjauan lingkungan (CEQA) yang selama ini bisa dipakai sejumlah proyek data center untuk mempercepat proses perizinan (Lawyer Monthly).
Dipicu Gelombang Penolakan Warga
Yang membuat langkah ini menonjol adalah kontrasnya dengan sikap Newsom tahun lalu: pada 2025 ia justru memveto rancangan UU keterbukaan data air data center dengan alasan khawatir regulasi berlebihan bisa menghambat pertumbuhan AI di negara bagiannya. Perubahan sikap ini didorong oleh tekanan publik yang terus membesar. Survei Public Policy Institute of California (PPIC) pada Juli 2026 menemukan hampir tiga perempat warga California menolak pembangunan data center AI di lingkungan mereka, dan 63% mengaku khawatir soal dampak lingkungannya (CalMatters). Sentimen itu tumbuh seiring makin banyak fasilitas raksasa yang dibangun berdekatan dengan permukiman untuk memenuhi permintaan komputasi model-model AI generasi terbaru — dari pelatihan model besar sampai layanan inferensi harian yang haus listrik dan air pendingin.
Industri Data Center Menolak, Ancam Pindah Negara Bagian
Reaksi dari sisi industri datang cepat. Data Center Coalition, kelompok lobi utama sektor ini, menyebut tumpang tindihnya tujuh aturan baru berpotensi menciptakan ketidakpastian regulasi dan membuat California kalah bersaing memperebutkan investasi data center baru. Kelompok ini memperingatkan proyek, lapangan kerja, dan investasi energi terkait bisa berpindah ke negara bagian tetangga yang aturannya lebih longgar (CBS News San Francisco). Ini bukan ancaman kosong — sejumlah negara bagian AS lain memang tengah aktif menawarkan insentif pajak dan lahan murah untuk menarik hyperscaler yang sedang berlomba menambah kapasitas komputasi AI.
Sinyal untuk Negara Bagian Lain
Terlepas dari perdebatan itu, langkah California kemungkinan jadi rujukan bagi negara bagian lain yang menghadapi tekanan serupa. Selama dua tahun terakhir, permintaan listrik dari data center AI di AS melonjak jauh lebih cepat dari perkiraan operator jaringan, memicu kekhawatiran soal siapa yang akhirnya menanggung biaya perluasan infrastruktur — perusahaan teknologi bermodal besar, atau pelanggan listrik rumah tangga yang tak punya hubungan langsung dengan boom AI. Dengan memaksa operator data center menanggung biayanya sendiri dan membuka data konsumsi sumber daya ke publik, California pada dasarnya menguji model regulasi yang bisa direplikasi: transparansi wajib plus prinsip "yang memakai, yang membayar".
Yang membuat paket ini berbeda dari sekadar retorika politik adalah cakupannya yang menyeluruh — bukan satu UU tunggal, melainkan tujuh aturan yang saling mengunci di tiga lini sekaligus: biaya infrastruktur, transparansi sumber daya, dan proses perizinan. Sejumlah pemimpin nasional dan anggota legislatif turut menyambut langkah ini sebagai preseden, menandakan California tak sendirian memandang isu ini sebagai prioritas mendesak, bukan sekadar wacana jangka panjang (Governor of California).
Takeaway
Tujuh UU California ini menandai titik balik dalam hubungan antara industri AI dan pemerintah daerah AS — dari sekadar mengundang investasi data center, menjadi menuntut akuntabilitas atas dampaknya pada listrik dan air warga. Bagi perusahaan AI besar, ini berarti biaya infrastruktur yang selama ini bisa "disembunyikan" dalam tarif kolektif kini harus tercatat dan dipertanggungjawabkan secara terbuka. Bagi warga California, ini kemenangan setelah berbulan-bulan advokasi — tapi efek jangka panjangnya, termasuk apakah investasi data center benar-benar akan bergeser ke negara bagian lain seperti diperingatkan industri, baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.
Sumber gambar: imgix di Unsplash Sumber gambar: Growtika di Unsplash Sumber gambar: Umberto di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.