Selasa lalu, Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengajukan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di pengadilan federal Manhattan: sebuah "statement of interest" resmi yang membela OpenAI dalam gugatan hak cipta yang diajukan The New York Times. Ini kali pertama pemerintah federal AS turun tangan langsung — bukan sekadar berkomentar dari pinggir lapangan — dalam salah satu dari puluhan gugatan hak cipta yang menyeret raksasa AI seperti OpenAI, Anthropic, dan Meta (Reuters via Investing.com). Associate Attorney General Stanley Woodward Jr. menyebutnya sebagai "historic statement of interest" (The Hollywood Reporter).
Isi Pembelaan: "Extraordinarily Transformative"
Inti argumen DOJ bukan hal baru dalam perdebatan hak cipta AI, tapi bobotnya berbeda karena datang dari pemerintah, bukan dari OpenAI sendiri. Dalam berkas yang diajukan ke pengadilan federal New York, DOJ menyatakan bahwa melatih model AI menggunakan materi berhak cipta bersifat "extraordinarily transformative" — sehingga masuk kategori fair use dalam hukum kekayaan intelektual AS, yang mengizinkan penggunaan karya berhak cipta tanpa lisensi selama hasilnya cukup mengubah tujuan dan karakter karya asli (The Hill). Pemerintah bahkan menulis secara eksplisit: "It would be problematic — and legally incorrect — to impose broad copyright liability that would generally render training of AI models impermissible without licensing."
Yang membuat berkas ini menonjol adalah bingkai yang dipakai. DOJ tidak memperlakukan kasus ini sebagai sengketa hak cipta biasa antara dua perusahaan, melainkan sebagai isu kepentingan nasional — menyebut ekosistem AI yang "robust" di Amerika Serikat sebagai kebutuhan untuk kemajuan sains, pertumbuhan ekonomi, dan keamanan nasional. Argumen semacam ini biasanya muncul di kasus perdagangan atau keamanan, jarang di sengketa hak cipta murni antara penerbit dan perusahaan teknologi.
Kasus Lama, Tekanan Baru
Gugatan ini sendiri bukan hal baru. The New York Times pertama kali menggugat OpenAI dan Microsoft pada akhir 2023, menuduh keduanya memakai jutaan artikel berhak cipta miliknya tanpa izin untuk melatih model AI seperti ChatGPT, dan meminta pengadilan menghentikan praktik itu sekaligus membayar ganti rugi. Kasus ini menjadi salah satu yang paling diawasi di antara lusinan gugatan serupa yang menumpuk sejak itu, sebagian karena skala dan kekuatan finansial The Times untuk bertarung sampai ke pengadilan.
Respons The Times terhadap masuknya DOJ datang cepat dan tajam. Juru bicara penerbit itu menyebut pemerintah "siding with a handful of trillion-dollar AI companies at the expense of the countless American creators whose work they stole" (GV Wire, wire report). Kalimat itu menegaskan bagaimana kedua sisi kini membingkai pertarungan: OpenAI dan pemerintah bicara soal inovasi dan keamanan nasional, sementara penerbit bicara soal pencurian kerja jurnalistik yang mahal untuk diproduksi tapi murah untuk ditelan mesin.
Kenapa Ini Penting di Luar Kasus Ini Sendiri
Statement of interest secara teknis tidak mengikat hakim — pengadilan tetap bebas mengabaikannya. Tapi posisi resmi pemerintah federal, apalagi dengan bahasa sekeras "legally incorrect" untuk pandangan sebaliknya, memberi bobot politik dan hukum yang sulit diabaikan begitu saja, terutama di kasus yang preseden akhirnya bisa memengaruhi lusinan gugatan hak cipta AI lain yang masih berjalan. Jika argumen fair use yang dibela DOJ diterima pengadilan, perusahaan AI mendapat perlindungan hukum yang jauh lebih kuat untuk terus melatih model dari data berhak cipta tanpa lisensi — sebuah hasil yang akan langsung memengaruhi model bisnis penerbit berita, penulis, dan kreator konten yang selama ini berharap jalur litigasi bisa memaksa perusahaan AI membayar lisensi.
Momentum ini juga tidak berdiri sendiri. Ia datang di tengah tekanan industri AI yang terus mendorong narasi bahwa regulasi hak cipta yang ketat akan membuat AS kalah bersaing melawan negara lain yang lebih longgar soal pelatihan data — argumen yang kini, lewat berkas DOJ ini, mulai mendapat pengakuan resmi dari pemerintah federal sendiri.
Takeaway
Intervensi DOJ ini adalah eskalasi baru, bukan titik akhir. Hakim di pengadilan federal Manhattan masih harus memutuskan apakah argumen fair use OpenAI cukup kuat untuk mementahkan gugatan The Times — dan keputusan itu, ditambah bobot resmi dari pemerintah federal, kemungkinan besar akan dikutip di gugatan-gugatan hak cipta AI lain yang masih menumpuk di berbagai pengadilan AS. Bagi penerbit dan kreator, sinyalnya jelas: jalur litigasi untuk memaksa lisensi data pelatihan AI baru saja jadi lebih berat, tepat ketika mereka paling membutuhkannya.
---
Sumber gambar: Growtika di Unsplash Sumber gambar: imgix di Unsplash Sumber gambar: Chris Ried di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.