Dua puluh persen dari omzet global tahunan — itu angka yang kini menggantung di atas kepala Google jika mereka mangkir dari perintah baru Komisi Eropa. Pada 16 Juli 2026, regulator itu mengadopsi dua keputusan mengikat sekaligus di bawah Digital Markets Act (DMA): Google wajib membuka arsitektur inti Android untuk asisten AI pesaing, dan wajib membagikan data mentah hasil pencarian ke rival mesin pencari maupun chatbot AI (CNBC).
Ini bukan sekadar teguran administratif. Keputusan ini langsung berlaku efektif sejak diumumkan, dan menyasar persis bagian dari Android yang selama ini jadi keunggulan kompetitif Google: kemampuan asisten bawaan mengambil alih perintah suara, membaca konteks layar, dan menjalankan aksi lintas-aplikasi tanpa harus melalui izin manual berulang kali.
Apa yang Sebenarnya Diwajibkan
Keputusan pertama menyasar Android secara langsung. Asisten AI pihak ketiga yang memenuhi syarat — bayangkan ChatGPT, Claude, atau asisten lain yang tersertifikasi — akan mendapat hak aktivasi suara dan kemampuan lintas-aplikasi di 11 kelompok fitur Android, dengan syarat sertifikasi dan persetujuan pengguna (Computerworld). Empat titik akses yang diatur adalah invocation (cara asisten dipanggil), data kontekstual, aksi di perangkat, dan sumber daya sistem — kombinasi yang menentukan apakah asisten rival benar-benar bisa bersaing setara di level perangkat, bukan cuma jadi aplikasi tambahan yang harus dibuka manual.
Keputusan kedua menyasar jantung bisnis Google yang lain: data pencarian. Google harus membagikan data kueri, klik, dan peringkat hasil pencarian — dalam bentuk teranonimkan — ke mesin pencari rival dan penyedia chatbot AI, dengan skema harga yang ditetapkan Komisi sendiri, bukan oleh Google (Fortune).
Tenggat yang Diatur Ketat, Bukan Sekadar Imbauan
Yang membuat keputusan ini terasa berbeda dari sekadar tekanan regulasi biasa adalah detail tenggatnya. Sebagian besar kewajiban terkait Android 18 harus rampung paling lambat Agustus 2027, sementara kemampuan deteksi hotword bersamaan (concurrent hotword detection) — fitur yang memungkinkan lebih dari satu asisten "mendengarkan" kata pemicu di waktu yang sama — baru menyusul di Android 19. Kewajiban berbagi data pencarian punya tenggat sendiri: harus mulai berjalan selambat-lambatnya Januari 2027.
Struktur bertahap ini tampak dirancang agar Google tidak bisa berdalih butuh waktu tak terbatas untuk "penyesuaian teknis" — sekaligus memberi ruang bagi pengembang asisten rival untuk mulai merancang integrasi jauh sebelum tenggat jatuh.
Ancaman Denda dan Bantahan Google
Konsekuensi ketidakpatuhan diatur eksplisit: denda hingga 10% dari omzet global tahunan untuk pelanggaran pertama, naik jadi 20% bila terjadi pelanggaran berulang. Untuk perusahaan sebesar Alphabet, angka itu berarti potensi denda dalam skala puluhan miliar dolar — bukan biaya administratif yang bisa dianggap enteng.
Google merespons dengan nada keberatan, menyebut keputusan ini berisiko "melemahkan pagar privasi dan keamanan vital bagi jutaan pengguna di Eropa". Argumen itu bukan hal baru — Google dan raksasa teknologi lain kerap memakai kerangka privasi-keamanan saat berhadapan dengan kewajiban interoperabilitas DMA — tapi kali ini argumennya harus diuji langsung terhadap kewajiban teknis yang sangat spesifik dan bertenggat, bukan sekadar prinsip umum.
Takeaway
Yang membuat keputusan ini penting bukan cuma soal Google versus Brussels. Ini preseden konkret bahwa regulator sudah cukup percaya diri membedah arsitektur teknis sebuah sistem operasi — sampai ke level "titik akses mana yang harus dibuka, kapan, dan dengan syarat apa" — alih-alih hanya memaksa prinsip keterbukaan yang longgar. Kalau kerangka ini berhasil dijalankan sesuai tenggat, ia akan jadi cetak biru bagi cara regulator lain mendekati kekuasaan platform AI di perangkat mobile — jauh melampaui kasus Google sendiri.
--- Sumber gambar: William Hook di Unsplash Sumber gambar: imgix di Unsplash Sumber gambar: Markus Spiske di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.