FCC AS Masukkan Robot Humanoid dan Robot Anjing Buatan China ke Daftar Terlarang

Delapan puluh lima persen. Itu perkiraan pangsa pasar global robot humanoid yang dipegang produsen China saat ini. Selasa, 28 Juli lalu, regulator telekomunikasi Amerika Serikat membuat angka itu nyaris tidak relevan untuk pasar dalam negeri mereka sendiri: FCC (Federal Communications Commission) resmi menambahkan robot humanoid, robot quadruped ("robot anjing" berkaki empat), dan power inverter buatan asing ke Covered List — daftar peralatan yang dianggap ancaman keamanan nasional dan tidak lagi bisa mendapat izin edar di AS (NBC News; Washington Post).

Ini bukan larangan yang berdiri sendiri. Ini perpanjangan dari kampanye yang lebih besar oleh pemerintahan Trump untuk menutup akses teknologi canggih China ke pasar AS — dan kali ini targetnya bergeser dari chip dan drone ke sesuatu yang jauh lebih personal: robot yang dirancang untuk berjalan, melihat, dan beroperasi di ruang yang sama dengan manusia.

Apa sebenarnya yang dilarang

Keputusan ini datang dari penambahan dua kategori baru ke Covered List — daftar yang dikelola FCC di bawah kerangka Secure and Trusted Communications Networks Act: robotika canggih asing (humanoid dan quadruped), serta power inverter buatan asing (The Hill). Secara teknis, masuknya sebuah kategori perangkat ke Covered List berarti perangkat itu tidak lagi bisa memperoleh otorisasi peralatan dari FCC — syarat wajib sebelum produk elektronik apa pun boleh dijual atau diimpor secara legal ke pasar AS.

Ketua FCC Brendan Carr menyebut langkah ini sebagai kelanjutan dari keputusan keamanan nasional yang sudah diambil cabang eksekutif: "Following President Trump's leadership, the FCC will continue to do our part to secure America's critical supply chains" (The Hill). Carr juga menegaskan larangan ini berlaku untuk "versi baru" dari perangkat tersebut — artinya unit yang sudah terpasang di AS saat ini tidak otomatis ditarik, tapi jalur impor dan sertifikasi untuk model-model baru langsung tertutup.

Bukan kekhawatiran generik — ada klaim backdoor yang spesifik

Panel LED biru kehijauan
Panel LED biru kehijauan

Alasan resmi di balik keputusan ini mengikuti pola yang sama dengan larangan-larangan sebelumnya terhadap teknologi China: kerawanan rantai pasok, risiko keamanan siber, dan potensi pengumpulan data oleh pihak asing lewat perangkat yang beroperasi langsung di lingkungan fisik penggunanya — kantor, rumah sakit, kampus. Robot humanoid dan quadruped, tidak seperti kebanyakan peralatan telekomunikasi yang jadi sasaran Covered List sebelumnya, membawa kamera, mikrofon, dan sensor yang bergerak bebas di ruang fisik, yang menurut regulator memperbesar risiko pengintaian dibanding perangkat statis.

Yang membuat klaim ini lebih konkret dari sekadar kekhawatiran umum: menurut laporan Tech Times, larangan tersebut secara spesifik merujuk pada backdoor yang sudah terkonfirmasi ada di perangkat keras Unitree yang telanjur terpasang di sejumlah institusi AS, termasuk MIT, Princeton, dan Carnegie (Tech Times). Kalau klaim itu akurat, ini bukan lagi skenario hipotetis "bisa saja disalahgunakan" — tapi celah yang sudah pernah ditemukan berjalan di infrastruktur penelitian nyata.

Unitree paling terdampak — dan itu bukan kebetulan

Tiga orang bekerja dengan laptop di dekat whiteboard
Tiga orang bekerja dengan laptop di dekat whiteboard

Dengan dominasi pasar sekitar 85%, praktis setiap produsen robot humanoid komersial terbesar di dunia saat ini berbasis di China: Unitree, UBTech, Agibot, Leju Robotics, Engine AI, dan Fourier Intelligence semua disebut sebagai vendor dengan keunggulan lebih dulu di pasar deployment komersial (Forbes). Tapi dari semua nama itu, Unitree yang diperkirakan paling terpukul — bukan cuma karena skala bisnisnya di AS, tapi karena posisinya sebagai mitra NVIDIA dalam ekosistem robotika berbasis AI, yang membuat larangan ini ikut menyentuh rantai kemitraan teknologi yang lebih luas (WCCFTech).

Efek praktisnya: perusahaan AS yang selama ini mengandalkan platform robotika Unitree atau sejenisnya untuk riset, keamanan, atau logistik, sekarang harus mencari alternatif produsen di luar China untuk deployment baru — sementara alternatif dengan skala dan harga sebanding belum banyak tersedia di pasar Barat.

Ini juga bukan langkah tunggal

Larangan FCC ini berjalan di jalur regulasi eksekutif, tapi ada jalur lain yang sedang bergerak paralel di Kongres. Sejak Maret 2026, Senator Tom Cotton (Republikan) dan Chuck Schumer (Demokrat) sudah mengajukan American Security Robotics Act — rancangan undang-undang lintas partai yang melarang lembaga federal AS membeli atau menggunakan robot yang terafiliasi dengan negara rival strategis seperti China, dengan kekhawatiran yang sama soal backdoor dan akses jarak jauh tanpa izin (The Hill). Bedanya, RUU itu menyasar pengadaan pemerintah federal, sementara keputusan FCC pekan ini menutup pasar komersial secara keseluruhan — jauh lebih luas cakupannya karena berlaku untuk semua pembeli di AS, bukan cuma instansi pemerintah.

Dua jalur ini, kalau berjalan bersamaan, berarti robot buatan China akan makin sulit ditemukan di AS baik di gedung pemerintah maupun di rak perusahaan swasta.

Takeaway

Larangan FCC ini menandai titik di mana kekhawatiran keamanan siber terhadap teknologi China resmi meluas dari chip dan aplikasi digital ke perangkat fisik yang bergerak sendiri di ruang manusia. Klaim backdoor yang sudah terkonfirmasi di kampus-kampus AS — kalau benar seperti dilaporkan — mengubah argumen dari sekadar proteksionisme industri jadi isu keamanan yang sudah punya bukti konkret. Buat industri robotika sendiri, ini artinya persaingan geopolitik yang selama ini berputar di semikonduktor kini punya medan baru: siapa yang boleh membangun mesin yang berjalan di ruangan yang sama dengan kita.

Sumber gambar: Vishnu Mohanan di Unsplash Sumber gambar: Markus Spiske di Unsplash Sumber gambar: Austin Distel di Unsplash

The conversation 0

No comments yet. Start the conversation.

Comments are reviewed before appearing. Links are masked.