Anak-anak berbaris di jalanan Visakhapatnam sambil membawa spanduk bertuliskan "We Cannot Drink DATA", sementara aktivis lain mengecat gambar borgol di atas logo Google. Sasaran protes mereka: proyek data center senilai $15 miliar yang digadang-gadang jadi investasi tunggal terbesar Google di luar Amerika Serikat (TechRadar).
Kampus AI 1 Gigawatt di Pesisir Andhra Pradesh
Google mengumumkan kemitraan dengan Adani Group pada 14 Oktober 2025 untuk membangun kampus data center hyperscale berkapasitas 1 gigawatt di Visakhapatnam (Vizag), kota pelabuhan di negara bagian Andhra Pradesh. Pemerintah negara bagian resmi mengalokasikan 601 hektare lahan lintas Visakhapatnam dan Anakapalli untuk proyek itu pada Februari 2026, dan Google sudah meletakkan batu pertama pembangunan akhir April 2026 (Data Center Dynamics).
Pemerintah Andhra Pradesh — yang dipimpin sekutu politik Perdana Menteri Narendra Modi — menyebut proyek ini "historis dan transformatif," dengan proyeksi hingga 188.000 lapangan kerja tercipta dari rantai pasok pembangunan hingga operasional jangka panjang. Skalanya membuat proyek ini disebut media sebagai investasi data center tunggal terbesar yang pernah masuk ke India, sekaligus salah satu taruhan infrastruktur AI terbesar Google di luar negeri asalnya (TechRadar).
Dua Gugatan: Krisis Air dan Suaka Margasatwa
Kegembiraan pemerintah negara bagian tidak dibagikan warga sekitar. Kelompok aktivis Jal Biradari mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Andhra Pradesh, menuduh proyek disetujui tanpa kajian memadai atas dampaknya terhadap pasokan air dari waduk yang selama ini melayani skema air minum pedesaan setempat. Pengadilan Tinggi pada Senin memerintahkan pemerintah negara bagian merespons tuduhan tersebut (Kathmandu Post/Reuters).
Front hukum kedua datang dari Human Rights Forum, yang mengajukan tiga perkara terpisah ke pengadilan lingkungan hidup India dan meminta penghentian proyek. Persoalannya kali ini bukan air, melainkan lokasi: sebagian lahan proyek berjarak hanya 860 meter dari Suaka Margasatwa Kambalakonda, rumah bagi macan tutul dan trenggiling. Kelompok ini mengkhawatirkan dampak kebisingan dan getaran konstruksi berat terhadap satwa di kawasan lindung tersebut (Kathmandu Post/Reuters; Republic World).
Bantahan Resmi, tapi Sidang Lanjutan 24 Agustus
Pemerintah Andhra Pradesh membantah tudingan bahwa proyek dipercepat tanpa menimbang risiko terhadap air dan satwa liar, dan berargumen jarak proyek ke suaka margasatwa sudah melebihi ambang batas yang diwajibkan hukum. Google, di sisi lain, menyatakan kampus barunya akan memakai sistem pendingin udara mutakhir dan mematuhi regulasi India, sembari berjanji menerapkan langkah peredam suara agar — seperti pernyataan resminya — "menjadi tetangga yang tenang dan tidak mengganggu." Pejabat negara bagian juga menegaskan pasokan air rumah tangga maupun pedesaan tidak akan disedot untuk kebutuhan data center (Kathmandu Post/Reuters).
Bantahan itu belum menutup perkara. Pengadilan Tinggi Andhra Pradesh menjadwalkan sidang lanjutan pada 24 Agustus 2026, sementara ketiga gugatan di pengadilan lingkungan hidup masih berjalan terpisah. Sampai saat itu, status hukum proyek — dan seberapa jauh Google-Adani boleh melanjutkan konstruksi — masih menggantung (Kathmandu Post/Reuters).
Pola yang Berulang di Mana-mana
Kasus Visakhapatnam menambah daftar panjang gesekan antara ambisi ekspansi infrastruktur AI raksasa teknologi dan kapasitas komunitas lokal menanggung bebannya — mulai dari moratorium data center hyperscale di New York hingga penolakan warga di berbagai lokasi lain yang dilirik hyperscaler. Bedanya di Vizag, skalanya jauh lebih besar: satu proyek tunggal senilai $15 miliar, dengan taruhan reputasi yang sama besarnya bagi Google di pasar terbesar keduanya secara populasi.
Yang membuat sengketa ini berbeda dari sekadar friksi izin lokal adalah simetri argumennya: pemerintah negara bagian punya insentif politik kuat untuk mempercepat proyek yang dijanjikan mengubah wajah ekonomi Vizag, sementara warga dan pegiat lingkungan punya bukti konkret berupa jarak 860 meter ke suaka margasatwa dan ketergantungan riil warga pada satu waduk yang sama. Pengadilan, bukan negosiasi tertutup, yang akhirnya diminta menengahi — dan hasilnya berpotensi jadi preseden bagi proyek serupa berikutnya di India.
Takeaway
Investasi data center raksasa kini rutin bertemu batas fisik yang tidak bisa dinegosiasikan begitu saja: air dan lahan yang sama-sama terbatas. Google-Adani boleh punya modal $15 miliar dan restu pemerintah negara bagian, tapi keduanya tidak otomatis mengalahkan gugatan hukum yang berbasis dampak lingkungan terukur. Sidang 24 Agustus akan jadi penanda apakah pengadilan India bersedia menahan laju pembangunan infrastruktur AI demi kajian dampak yang lebih matang — atau membiarkan proyek jalan terus sambil sengketa berlanjut di jalur paralel.
---
Sumber gambar: Domaintechnik di Unsplash Sumber gambar: Igor Omilaev di Unsplash Sumber gambar: Tim van der Kuip di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.