Selama kurang lebih tiga bulan terakhir, saham GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) macet di angka Rp50 per lembar — batas harga terendah yang masih diizinkan aturan Bursa Efek Indonesia. Angka sekecil itu ternyata cukup untuk membuat MSCI, penyedia indeks yang jadi acuan triliunan dolar dana investasi global, resmi mencoret GoTo dari MSCI Global Standard Index dalam tinjauan Agustus 2026 (Bloomberg). Yang bikin ironis: pengumuman itu jatuh cuma beberapa hari setelah GoTo melaporkan laba bersih dua kuartal berturut-turut.
Rp50 yang Mengunci GoTo dari Radar Global
MSCI mengumumkan hasil Index Review Agustus 2026 pada 12 Agustus, dengan perubahan konstituen mulai berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus dan tercermin di kalkulasi indeks sejak 1 September (MSCI). Alasan utamanya bukan soal kinerja bisnis, melainkan apa yang disebut MSCI sebagai risiko "index replicability" — kemampuan investor yang mengikuti indeks untuk benar-benar bisa bertransaksi sesuai porsi yang diwakili saham itu di portofolio mereka.
Masalahnya, sejak harga saham GOTO terus turun dan menyentuh batas bawah resmi bursa (price floor) di Rp50, volume perdagangannya ikut menipis drastis. Praktis, saham itu jadi nyaris tak likuid meski masih tercatat aktif — sesuatu yang menurut laporan sudah memicu keluhan sejumlah manajer aset soal sulitnya mengeksekusi transaksi dalam jumlah wajar. Aturan price floor yang awalnya dimaksudkan melindungi investor dari volatilitas ekstrem justru berbalik jadi alasan MSCI mendepaknya dari radar indeks global.
Laba Dua Kuartal, tapi Saham Tetap Nyangkut
Yang membuat keputusan ini terasa janggal bagi banyak pengamat pasar: GoTo justru sedang berada di performa keuangan terbaiknya sejak IPO. Pada kuartal II 2026, perusahaan mencatat laba bersih Rp252 miliar dengan pendapatan neto Rp5,7 triliun, naik 31 persen secara tahunan — kuartal profitabilitas kedua berturut-turut setelah laba Rp171 miliar di kuartal I (Bisnis.com). EBITDA Grup yang disesuaikan menembus Rp1 triliun untuk pertama kalinya, sementara segmen fintech melonjak 447 persen ke Rp481 miliar (Fortune Indonesia).
Merespons pencoretan itu, manajemen GoTo menegaskan keputusan MSCI "murni teknis" dan bukan cerminan kinerja fundamental perusahaan — GoTo tetap bertahan di indeks-indeks domestik utama seperti LQ45 dan IDX30, serta mempertahankan panduan EBITDA Grup 2026 di kisaran Rp3,2–3,4 triliun (CNN Indonesia). Tapi bantahan itu tak mengubah fakta di lapangan: selama harga saham masih terkunci di price floor, dana-dana besar yang mengikuti indeks global otomatis tak lagi wajib — dan kemungkinan besar tak lagi bisa — memegang GOTO, apa pun angka di laporan keuangannya.
Bayang-Bayang Akuisisi Grab yang Belum Kelar
Ketidakpastian harga saham ini terjadi di tengah rumor besar yang sudah mengambang sejak awal tahun: rencana Grab mengakuisisi GoTo. Salah satu ganjalan yang paling sering disebut adalah kepemilikan sekitar 2 persen saham GoTo oleh Telkomsel, anak usaha PT Telkom Indonesia yang mayoritas sahamnya dipegang negara. Telkomsel dilaporkan enggan melepas sahamnya pada valuasi GoTo saat ini karena investasi awalnya dilakukan di harga jauh lebih tinggi — dan sempat menyampaikan kekhawatiran soal potensi kerugian modal negara, sesuatu yang bisa berimplikasi hukum di Indonesia (Tirto.id; IDNFinancials).
Posisi tawar itu penting karena rencana akuisisi lintas negara semacam ini butuh restu banyak pemangku kepentingan lokal, termasuk pemerintah Indonesia — memberi Telkomsel ruang negosiasi harga yang lebih kuat dibanding pemegang saham minoritas pada umumnya. Sampai laporan-laporan terakhir, negosiasi itu dikabarkan belum menghasilkan kesepakatan final. Dengan saham GOTO kini juga tersingkir dari indeks global, tekanan pada valuasinya — dan pada arah negosiasi akuisisi itu — kemungkinan besar belum akan mereda dalam waktu dekat.
Takeaway
Kasus GoTo menunjukkan bagaimana mekanisme pasar modal bisa berjalan lepas dari kinerja bisnis yang sebenarnya: aturan price floor yang harusnya melindungi investor ritel dari volatilitas ekstrem, di sisi lain membuat saham jadi terlalu tidak likuid untuk investor institusional global — bahkan ketika laporan keuangan perusahaannya membaik dua kuartal berturut-turut. Bagi GoTo, keluar dari MSCI berarti kehilangan sebagian aliran dana pasif global, tepat di saat negosiasi akuisisi oleh Grab masih menggantung karena soal harga saham Telkomsel. Kombinasi keduanya membuat arah saham GOTO dalam beberapa bulan ke depan lebih ditentukan oleh dinamika struktur kepemilikan dan aturan bursa, ketimbang oleh angka-angka di laporan keuangannya sendiri.
---
Bagi jutaan pengguna, GoTo dan Grab tetap dua aplikasi yang setiap hari dibuka lewat layar smartphone — jauh dari hiruk-pikuk negosiasi di lantai bursa dan meja korporasi.
Volume transaksi harian yang menipis akibat price floor adalah inti masalah yang membuat MSCI menilai saham GOTO sudah tak lagi cukup likuid untuk diikuti dana-dana besar.
Di balik layar, negosiasi akuisisi Grab-GoTo dan posisi tawar Telkomsel masih jadi salah satu meja perundingan korporasi paling ditunggu di industri teknologi Indonesia.
Sumber gambar: William Hook di Unsplash, Rodion Kutsaiev di Unsplash, Austin Distel di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.