Selisih dua digit persen kelihatannya kecil, tapi di pusat data AI itu selisih antara rak server yang bisa dijejali GPU lebih rapat atau harus dikurangi karena kepanasan. C2i Semiconductors, startup asal Bengaluru berumur dua tahun, mengklaim controller software-defined buatannya menaikkan efisiensi konversi daya dari sekitar 94% pada solusi incumbent ke lebih dari 96%, sambil membuat prosesor berjalan hingga 4°C lebih dingin (ElectronicsForU). Senin (24/8), Infineon Technologies — raksasa semikonduktor Jerman — mengumumkan mengakuisisi perusahaan itu sepenuhnya untuk memperkuat lini power delivery pusat data AI-nya (EEJournal).
Nilai transaksi tidak diungkap kedua perusahaan. Yang dipastikan: transaksi ditargetkan rampung pada kuartal ketiga 2026, dan C2i akan langsung dilebur ke unit Power Systems Infineon (New Electronics).
Soal "inci terakhir" yang bikin GPU kepanasan
C2i menyebut masalah yang mereka pecahkan sebagai problem "last-inch" — jarak terakhir antara unit power delivery di papan sirkuit dan silikon GPU itu sendiri, tempat arus harus melonjak dalam hitungan mikrodetik setiap kali beban komputasi berubah. Produk andalan mereka, Manas Controller, adalah controller multiphase yang sepenuhnya software-defined: bukan chip tetap dengan parameter yang dipatri sejak pabrik, tapi arsitektur kontrol yang bisa menyesuaikan diri terhadap perubahan power delivery network dan kebutuhan prosesor generasi baru tanpa desain ulang dari nol (Digitimes).
Pendekatan itu berbeda dari cara industri power semikonduktor bekerja selama ini, di mana setiap generasi GPU biasanya butuh redesain voltage regulator module baru. Dengan makin banyak lab AI merilis chip baru tiap beberapa bulan, kemampuan satu arsitektur controller melayani beberapa generasi sekaligus jadi nilai jual yang jelas — dan itulah yang tampaknya dilihat Infineon.
Klaim efisiensi 10% di level sistem itu, menurut penjelasan tim C2i sebelumnya, bukan datang dari satu terobosan tunggal, melainkan kombinasi jumlah tahap konversi yang dipangkas plus optimasi paralel di sisi kontrol dan sisi konversi daya pada tiap tahap yang tersisa — pendekatan yang mereka sebut lebih mendekati cara software dioptimasi ketimbang cara chip analog konvensional dirancang (ElectronicsForU).
Tim eks-Texas Instruments dan modal dari TDK Ventures
C2i didirikan tahun 2024 oleh tiga insinyur dengan latar belakang panjang di power dan analog semiconductor — termasuk masa kerja di Texas Instruments, National Semiconductor, dan Maxim Integrated — sebelum memutuskan membangun startup sendiri di Bengaluru (YourStory). Februari lalu, perusahaan ini menutup putaran Seri A senilai $16,7 juta yang dipimpin TDK Ventures dengan partisipasi Peak XV Partners dan sejumlah eksekutif senior industri semikonduktor (Inc42).
Enam bulan kemudian, startup yang sama sudah diakuisisi penuh oleh salah satu produsen power semiconductor terbesar dunia — jeda yang sangat pendek untuk ukuran siklus startup-ke-exit, dan sinyal seberapa mendesak kebutuhan solusi power delivery generasi baru di mata pemain besar. Adam White, presiden divisi Power Systems Infineon, menyebut akuisisi ini akan "memperkuat posisi kepemimpinan Infineon di solusi daya untuk pusat data AI" sekaligus membentuk center of excellence baru untuk teknologi digital power di India (Tribune India/ANI).
Kenapa power delivery jadi rebutan sekarang
Selama beberapa tahun terakhir, sorotan industri chip AI hampir selalu jatuh ke GPU itu sendiri — arsitektur, node fabrikasi, kapasitas HBM. Power delivery jarang jadi headline. Tapi seiring GPU generasi terbaru menarik daya jauh lebih besar per chip dibanding generasi sebelumnya, komponen yang mengantarkan listrik dari grid ke silikon ikut jadi titik tekanan tersendiri — dan itulah celah yang coba diisi teknologi C2i lewat pendekatan "grid-to-core" mereka, termasuk arsitektur vertical power delivery seperti Substrate Integrated Voltage Regulator (SIVR) yang juga sudah masuk roadmap Infineon (EEJournal).
Bagi Infineon, akuisisi ini melengkapi portofolio yang sudah kuat di silicon carbide (SiC) dan gallium nitride (GaN) — dua material yang jadi andalan power semiconductor generasi baru — dengan lapisan kontrol digital yang selama ini bukan kekuatan inti mereka. Bagi ekosistem startup semikonduktor India, ini exit besar lain yang menegaskan Bengaluru makin dilirik sebagai pusat desain chip, bukan cuma pusat layanan IT seperti citra lamanya (New Electronics).
Tekanan di balik akuisisi ini juga punya angka makro yang jelas. Menurut analisis Badan Energi Internasional (IEA), konsumsi listrik pusat data secara global diproyeksikan berlipat ganda menjadi sekitar 945 TWh pada 2030, tumbuh sekitar 15% per tahun — empat kali lebih cepat dari pertumbuhan konsumsi listrik sektor lain — dengan konsumsi listrik pusat data yang fokus AI saja melonjak 50% sepanjang 2025 (IEA). Di tengah lonjakan sebesar itu, setiap persen efisiensi yang bisa dipangkas di titik konversi daya langsung berarti penghematan energi dalam skala nasional, bukan sekadar angka di lembar spesifikasi produk.
Takeaway
Akuisisi C2i oleh Infineon adalah pengingat bahwa perlombaan AI tidak cuma soal siapa yang punya GPU tercepat — tapi juga siapa yang bisa mengalirkan listrik ke GPU itu tanpa membakar papan sirkuit atau membuang-buang energi di sepanjang jalan. Dengan klaim efisiensi di atas 96% dan pendekatan software-defined yang tahan-generasi, teknologi C2i menawarkan jawaban konkret untuk masalah yang makin sering disebut sebagai bottleneck berikutnya di infrastruktur AI. Yang perlu ditunggu: seberapa cepat Infineon bisa membawa teknologi ini dari lab startup ke lini produksi massal — dan apakah pesaing seperti Vicor, Monolithic Power Systems, atau Texas Instruments sendiri akan merespons dengan akuisisi serupa.
--- Sumber gambar: Christopher Gower di Unsplash Sumber gambar: Ilya Pavlov di Unsplash Sumber gambar: Growtika di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.