JD Cloud Taruhkan Klaster 100.000 GPU Buatan China — Tanpa Nvidia, Tanpa Auditor Independen

Pada 9 September 2026, JD Cloud — unit cloud milik raksasa e-commerce JD.com — mengumumkan rencana membangun klaster komputasi berisi 100.000 GPU yang seluruhnya dipasok oleh Moore Threads, chipmaker asal Beijing yang masuk daftar hitam ekspor Amerika Serikat sejak 2023 (DataCenterDynamics). Ini disebut sebagai deployment pertama GPU buatan domestik China dalam klaster komputasi inti berskala 100.000 kartu di penyedia cloud besar China mana pun (TechNode).

Klaster ini dirancang untuk menopang pelatihan model besar (large-model training), inferensi, dan beban kerja embodied AI seperti robotika — dengan kapasitas komputasinya nanti juga disewakan ke perusahaan lain lintas industri, bukan cuma dipakai internal JD (Digitimes).

Dari uji coba 10.000 kartu ke taruhan sepuluh kali lipat

JD Cloud dan Moore Threads bukan pasangan baru. Keduanya sudah mengoperasikan bersama klaster 10.000 GPU sebelum pengumuman ini — artinya lompatan ke 100.000 GPU bukan taruhan buta di atas kertas, melainkan skala-naik dari kemitraan yang sudah diuji produksi selama kurang lebih dua tahun (Global Times). Itu tetap saja lompatan sepuluh kali lipat dalam satu langkah, sesuatu yang jarang dicoba bahkan oleh operator klaster GPU Nvidia yang sudah matang, apalagi dengan chip yang baru pertama kali diuji pada skala sebesar ini.

Signifikansinya bukan cuma soal angka. Selama ini, hampir semua klaster GPU berskala ratusan ribu kartu di dunia — milik Microsoft, Meta, xAI, atau penyedia cloud China sendiri — bertumpu pada GPU Nvidia atau, dalam kasus China, versi chip Nvidia yang sudah disunat kemampuannya untuk lolos aturan ekspor. Klaster JD Cloud ini berbeda: seratus persen GPU domestik, tanpa satu pun komponen kompute dari Nvidia.

Sistem server ImgIX berwarna hitam
Sistem server ImgIX berwarna hitam

Zhang Jianzhong, mantan bos Nvidia China yang kini jadi rivalnya

Moore Threads didirikan tahun 2020 oleh Zhang Jianzhong, yang sebelumnya menghabiskan 15 tahun sebagai wakil presiden global Nvidia dan sempat memimpin operasi Nvidia di China (Caproasia). Oktober 2023, Departemen Perdagangan AS memasukkan tiga entitas Moore Threads ke Entity List karena dianggap terlibat pengembangan sirkuit komputasi canggih — sanksi yang sempat memaksa perusahaan memangkas sebagian kecil dari sekitar 1.000 karyawannya (TechNode).

Alih-alih melumpuhkan perusahaan, sanksi itu justru mempercepat posisinya sebagai kandidat utama pengganti Nvidia di pasar domestik China. Desember 2025, Moore Threads melantai di papan STAR Market Shanghai dan langsung melonjak tajam pada hari pertama perdagangan, mengantarkan valuasi perusahaan ke sekitar $42,8 miliar (Caproasia) — perusahaan yang dulu dihukum karena "terlalu canggih" untuk diekspor kini dinilai pasar hampir setara raksasa teknologi kelas menengah dunia.

Klaim efisiensi 95% yang belum diverifikasi siapa pun

Bagian paling rapuh dari pengumuman ini bukan skalanya, melainkan buktinya. Moore Threads mengklaim klaster 100.000 GPU-nya bisa mencapai efisiensi scaling linear hingga 95% — angka yang, jika benar, sudah kompetitif dengan klaster GPU Nvidia kelas atas. Masalahnya, klaim itu murni berasal dari Moore Threads dan JD Cloud sendiri; belum ada auditor independen atau pihak ketiga yang memverifikasi angka tersebut pada skala operasional sungguhan (Tech Times).

Ini bukan detail kecil. Efisiensi scaling adalah metrik paling gampang dimanipulasi dalam pengumuman klaster GPU — gampang diukur di kondisi ideal laboratorium, tapi sering anjlok begitu dihadapkan pada beban kerja produksi nyata, gangguan jaringan interkoneksi, atau kegagalan hardware skala besar yang tak terhindarkan pada 100.000 unit chip yang berjalan bersamaan. Nvidia dan pesaing Barat lain biasanya mempublikasikan detail benchmark yang bisa direplikasi pihak ketiga (seperti MLPerf); sejauh ini Moore Threads belum melakukan hal serupa untuk klaim spesifik ini.

Papan sirkuit berwarna biru
Papan sirkuit berwarna biru

Kenapa China terburu-buru mandiri dari Nvidia

Momentum di balik taruhan JD Cloud ini tidak lepas dari kebijakan ekspor chip AS yang terus berubah. Setelah larangan H20 April 2025, pemerintahan Trump baru mengizinkan Nvidia menjual chip H200 ke China awal 2026 — itu pun dengan syarat ketat: volume pengiriman ke China dibatasi maksimal 50% dari volume yang dijual di pasar domestik AS, plus AS mengambil potongan 25% dari setiap penjualan (CRN Asia). Kebijakan yang berubah-ubah dan penuh syarat semacam ini membuat penyedia cloud China sulit merencanakan infrastruktur jangka panjang di atas pasokan chip Nvidia — dan mendorong mereka mempercepat migrasi ke chip domestik meski secara teknis belum terbukti setara.

Nvidia sendiri tampak menyadari risiko ini. Februari 2026, CNBC melaporkan Nvidia khawatir rival lokal China bisa merebut pasar domestiknya justru karena perusahaan itu sendiri belum berhasil mengirimkan chip yang disetujui AS ke pelanggan China dalam jumlah berarti — kekhawatiran yang kini punya bukti konkret lewat pengumuman JD Cloud (CNBC).

Takeaway

Klaster 100.000 GPU JD Cloud-Moore Threads adalah taruhan simbolis sekaligus praktis: simbolis karena membuktikan China bisa mengoperasikan infrastruktur AI kelas hyperscale tanpa satu pun chip Nvidia, praktis karena dibangun di atas kemitraan yang sudah diuji dua tahun lewat klaster 10.000 GPU sebelumnya. Tapi taruhan ini masih bertumpu pada satu angka yang belum bisa dipercaya begitu saja — klaim efisiensi 95% yang cuma datang dari mulut kedua belah pihak yang berkepentingan, tanpa audit independen. Sampai angka itu diuji pihak ketiga pada beban kerja produksi nyata, klaster ini lebih tepat dibaca sebagai pernyataan politik-industri tentang kemandirian chip China, ketimbang bukti definitif bahwa GPU domestik sudah benar-benar setara Nvidia.

---

Sumber gambar: Igor Omilaev di Unsplash Sumber gambar: imgix di Unsplash Sumber gambar: Umberto di Unsplash

The conversation 0

No comments yet. Start the conversation.

Comments are reviewed before appearing. Links are masked.