Bukan workshop dua jam soal cara memakai ChatGPT. Yang dikerjakan mahasiswa di AI Talent Factory justru sebaliknya: membangun sistem AI dari nol untuk masalah nyata yang sedang dihadapi pemerintah, dari data sosial Sekolah Rakyat sampai pengawasan ruang digital anak. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kini menyusul Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai kampus ketiga yang ikut program besutan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) itu (Suara.com).
Dari 98 mahasiswa dan 28 mentor, kini merambat ke Surabaya
Program AI Talent Factory (AITF) mulai berjalan lewat rangkaian workshop yang melibatkan 98 mahasiswa dan 28 mentor dari UGM dan UB, sebelum ITS ikut bergabung (UGM). Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut program ini sengaja dirancang agar mahasiswa tidak berhenti sebagai konsumen teknologi AI buatan luar negeri, melainkan ikut serta merancang dan membangunnya sendiri — bagian dari yang pemerintah sebut sebagai upaya menuju "kedaulatan AI" nasional (Portal Komdigi).
Setiap kampus mendapat studi kasus berbeda sesuai kekuatannya. UB, yang bekerja sama dengan Kementerian Sosial, mengembangkan solusi AI untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran di 178 Sekolah Rakyat dan memperkuat layanan sosial berbasis data (Radar Indonesia News). ITS kebagian tugas yang lebih sensitif: membangun solusi untuk pengawasan ruang digital dan perlindungan anak di internet (Pantau.com).
UB sendiri jadi kampus pertama yang menjalin kerja sama ini, resmi diluncurkan Kepala BPSDM Komdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto pada 28 Agustus 2026 di Malang. Levelnya sengaja dipatok tinggi — bukan untuk pemula, melainkan setingkat practitioner yang dibimbing langsung oleh pakar: sekitar separuh dari keseluruhan kegiatan berupa diskusi dan brainstorming terbimbing, sementara porsi belajar mandiri lewat modul sengaja dibuat kecil, hanya sekitar seperlima, karena fokusnya memang menghasilkan prototipe dan portofolio nyata, bukan sertifikat penyelesaian kursus (BPSDM Komdigi).
Bukan sekadar kelas — keamanan siber dan AI digabung sengaja
Yang membedakan AITF dari sekadar bootcamp AI generik adalah penekanannya pada keamanan siber sebagai satu paket, bukan topik terpisah. Komdigi secara eksplisit meminta generasi muda menguasai keamanan siber dan kecerdasan buatan secara bersamaan, dengan alasan makin banyak serangan siber sekarang justru memakai AI sebagai alat penyerang — jadi talenta yang dilatih Komdigi juga harus paham sisi pertahanannya (Suara.com).
Format kelasnya sendiri bukan kuliah satu arah. Peserta ikut sesi diskusi progres proyek, mentoring studi kasus langsung dengan pembimbing dari industri, hingga kuliah tamu dari pakar — pola yang lebih mirip inkubator startup ketimbang mata kuliah reguler, dengan hasil akhir berupa prototipe AI yang benar-benar dipakai menjawab masalah instansi mitra, bukan sekadar tugas akhir yang berhenti di laporan (UGM).
Taruhannya: kesenjangan talenta AI yang selama ini jadi keluhan
Alasan program ini digenjot bukan tanpa sebab. Kementerian sendiri menghitung kebutuhan talenta digital Indonesia lima tahun ke depan hingga 2030, dan menemukan kekurangan sekitar 453 ribu talenta per tahun — angka yang jauh lebih besar dari kapasitas program percontohan tiga kampus ini, tapi jadi alasan resmi kenapa Komdigi menyebut AITF akan terus diperluas ke lebih banyak universitas di berbagai daerah (BPSDM Komdigi). Selama ini keluhan berulang dari pelaku industri teknologi Indonesia adalah minimnya talenta lokal yang benar-benar bisa membangun model AI, bukan cuma mengintegrasikan API dari OpenAI, Google, atau Anthropic ke aplikasi bisnis. Dengan menyasar kampus-kampus di luar Jakarta — UB di Malang, UGM di Yogyakarta, dan kini ITS di Surabaya — Komdigi juga tampak sengaja menghindari pola lama di mana program talenta digital pemerintah terlalu terpusat di Jabodetabek.
Skala tiga kampus dan ratusan peserta ini memang masih kecil dibanding ambisi "kedaulatan AI" yang berulang kali disebut pejabat Komdigi tahun ini — termasuk lewat peluncuran domain khusus .ai.id dan berbagai forum kebijakan AI lain. Tapi berbeda dari sekadar seremoni infrastruktur, AITF punya ukuran keberhasilan yang lebih konkret dan bisa diverifikasi: apakah prototipe yang dibuat mahasiswa benar-benar dipakai instansi mitra, atau berakhir sebagai demo yang tak berlanjut setelah program selesai.
Takeaway
AI Talent Factory menandai pergeseran kecil tapi penting dalam pendekatan Komdigi: dari sekadar mendorong adopsi AI di masyarakat, ke upaya mencetak orang yang bisa membangun AI itu sendiri, memakai masalah pemerintah yang nyata sebagai bahan latihan. Perluasan ke ITS menunjukkan program ini tumbuh, tapi ukuran sebenarnya bukan jumlah kampus yang bergabung — melainkan apakah prototipe-prototipe dari Sekolah Rakyat hingga ruang digital anak itu benar-benar dipakai instansi mitra, bukan cuma jadi demo yang berhenti begitu programnya usai.
Sumber gambar: Ales Nesetril di Unsplash Sumber gambar: Tim van der Kuip di Unsplash Sumber gambar: Ilya Pavlov di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.