Sejak 1 Juli 2026, aplikasi ojek online cuma boleh memotong maksimal 8 persen dari setiap tarif perjalanan roda dua — turun drastis dari 20 persen yang berlaku selama ini. Di atas kertas, pengemudi GoTo dan Grab kini membawa pulang 92 persen dari ongkos penumpang. Tapi begitu aturan itu benar-benar berjalan, yang muncul bukan sorak-sorai, melainkan kebingungan: sejumlah mitra pengemudi mengaku belum merasakan kenaikan pendapatan sama sekali, bahkan ada yang bilang penghasilan pagi itu lebih kecil dari hari sebelumnya (CNBC Indonesia).
Dari 20% ke 8%: aturan yang dipaksa jalan serentak
Pemangkasan ini bukan inisiatif sukarela GoTo dan Grab. Aturan batas maksimum komisi aplikator 8 persen ini bermula dari arahan Presiden Prabowo Subianto pada awal Mei 2026, lalu dipertegas lewat pertemuan manajemen kedua perusahaan dengan pimpinan DPR RI di kompleks parlemen Jakarta. Hasilnya: GoTo, Grab, dan Maxim sepakat menerapkan skema baru itu serentak per 1 Juli, bukan bertahap per platform (Antara News).
Skema lama menyisakan celah lebar bagi aplikator untuk memotong pendapatan pengemudi lewat kombinasi komisi dasar plus berbagai skema tambahan — biaya platform, biaya asuransi, potongan program loyalitas. Aturan baru menyasar tepat di titik itu: memastikan porsi yang benar-benar sampai ke rekening pengemudi naik signifikan, setidaknya secara matematis.
Kenapa pengemudi malah bingung, bukan senang
Realitanya lebih berantakan dari rumus di atas kertas. Sejumlah mitra pengemudi melaporkan potongan 8 persen itu belum konsisten diterapkan lintas aplikator pada hari-hari pertama, dan mereka belum paham skema bagi hasil baru yang menggantikannya — termasuk apakah bonus performa dan insentif jam sibuk ikut dihitung ulang atau berjalan terpisah dari basis komisi baru (Bisnis.com).
Masalahnya bukan cuma soal transparansi angka. Kesejahteraan pengemudi pada akhirnya diukur dari rupiah yang tersisa setelah seharian di jalan — bukan dari persentase komisi yang tertulis di kebijakan. Kalau jumlah order turun, program insentif dipangkas, atau biaya operasional (bensin, paket data, cicilan motor) tidak ikut turun, potongan komisi yang lebih kecil bisa saja tidak berarti apa-apa buat pendapatan bersih harian.
Efek domino ke tarif penumpang
Di sisi lain jalan, penumpang mulai merasakan penyesuaian tarif. Untuk jarak tempuh yang sama, harga layanan yang sebelumnya sekitar Rp 12.100 kini tercatat turun ke kisaran Rp 11.400 di sejumlah rute — sebuah anomali yang justru berlawanan dengan kekhawatiran awal bahwa komisi lebih rendah akan mendorong aplikator menaikkan tarif untuk menutup selisih pendapatan (Kompas). Kementerian Perhubungan sendiri sudah memastikan tarif dasar tidak dinaikkan sebagai kompensasi kebijakan ini, tapi pengamat ekonomi digital memperingatkan tekanan itu bisa muncul belakangan lewat jalur lain: pengurangan promo, penyesuaian biaya layanan tambahan, atau perubahan skema surge pricing yang lebih sering dipicu.
Risiko yang tersembunyi di balik angka bagus
Analisis mendalam dari Katadata menyoroti sisi yang jarang dibahas: menurunkan komisi aplikator tanpa mengubah struktur insentif dan algoritma distribusi order berisiko cuma memindahkan tekanan, bukan menghilangkannya. Jika aplikator merespons dengan memperketat kriteria bonus performa atau mengurangi frekuensi order yang masuk ke pengemudi tertentu untuk menjaga margin, kenaikan porsi komisi di atas kertas bisa jadi kesejahteraan semu — angka regulasinya membaik, tapi pengalaman harian pengemudi di lapangan tidak banyak berubah (Katadata).
Ini juga jadi ujian nyata bagi model bisnis GoTo dan Grab. Komisi aplikator selama ini bukan sekadar pungutan — itu sumber pendapatan inti yang menopang subsidi promo, biaya teknologi, dan margin operasional platform ride-hailing. Memangkasnya lebih dari separuh dalam semalam memaksa kedua perusahaan mencari efisiensi di tempat lain, dan pengemudi maupun penumpang kemungkinan besar akan merasakan efek dari pencarian efisiensi itu dalam beberapa bulan ke depan, bukan hari pertama kebijakan berlaku.
Takeaway
Kebijakan komisi 8 persen ini penting dan arahnya benar — pengemudi ojol memang selama ini menanggung porsi komisi yang berat dibanding standar industri di banyak negara lain. Tapi angka regulasi yang bagus di atas kertas tidak otomatis jadi rupiah lebih banyak di kantong pengemudi kalau struktur insentif, alokasi order, dan biaya tambahan lain tidak ikut dibenahi bersamaan. Yang layak dipantau bukan tanggal berlakunya aturan, melainkan slip pendapatan pengemudi tiga sampai enam bulan dari sekarang — itu baru jawaban jujur soal siapa yang benar-benar diuntungkan dari kebijakan ini.
---
Sumber gambar: Rodion Kutsaiev di Unsplash Sumber gambar: Christopher Gower di Unsplash Sumber gambar: Chris Ried di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.