Maret 2025, D-Wave mengumumkan sesuatu yang terdengar final: prosesor quantum annealing 5.000-qubit mereka, Advantage2, berhasil mensimulasikan dinamika ratusan qubit yang saling terjerat dengan cara yang — kata mereka di jurnal Science — mustahil ditiru komputer klasik mana pun. Enam belas bulan kemudian, sekelompok fisikawan menjalankan simulasi serupa di laptop biasa. Hasilnya cocok. Dan sekarang kedua kubu saling berbalas klaim soal siapa yang sebenarnya menang.
Klaim supremasi yang jadi taruhan
Istilah "quantum supremacy" atau supremasi kuantum merujuk pada titik di mana komputer kuantum bisa menyelesaikan sesuatu yang benar-benar mustahil — bukan cuma lebih lambat — bagi komputer klasik. Klaim D-Wave Maret 2025 lewat prosesor Advantage2 adalah salah satu tonggak paling dipublikasikan di bidang ini: mereka mensimulasikan dinamika spin glass Ising, sistem magnet atomik yang posisinya kacau dan saling berinteraksi, dalam skala yang menurut makalah mereka sendiri berada jauh di luar jangkauan superkomputer klasik terbaik sekalipun.
Klaim seperti ini bukan hal baru dalam sejarah komputasi kuantum — Google pernah membuat klaim serupa tahun 2019 lewat prosesor Sycamore-nya, yang kemudian juga ditantang lewat perbaikan algoritma klasik. Polanya berulang: komputer kuantum mengklaim rekor, lalu peneliti klasik mencari cara memangkas ruang komputasi yang tadinya dianggap tak bisa dipangkas.
Taruhannya bukan cuma gengsi akademik. D-Wave adalah perusahaan yang sahamnya diperdagangkan publik di bursa Amerika Serikat (ticker QBTS), dan klaim "beyond-classical" Maret 2025 sempat jadi salah satu bukti utama yang dipakai perusahaan untuk meyakinkan investor bahwa quantum annealing komersial mereka sudah melampaui batas kemampuan komputer klasik — bukan sekadar arah riset jangka panjang seperti kompetitor gate-model semacam IBM atau Google.
Tensor network yang jalan di laptop
Tim dari Center for Computational Quantum Physics (CCQ) di Flatiron Institute — bagian dari Simons Foundation — yang dipimpin Joseph Tindall menerbitkan hasil kerja mereka di jurnal Science pada 21 Mei 2026, berjudul "Dynamics of disordered quantum systems with two- and three-dimensional tensor networks", menurut siaran resmi Simons Foundation. Metode yang mereka pakai adalah projected entangled pair states (PEPS), varian tensor network yang memampatkan fungsi gelombang raksasa hasil keterjeratan ratusan qubit menjadi struktur yang jauh lebih ringkas untuk dihitung — mirip proses kompresi file, tapi untuk data kuantum.
Menurut rangkuman Quantum Computing Report, tim ini berhasil mereproduksi dinamika spin glass pada berbagai konfigurasi lattice 2D dan 3D dengan akurasi yang kompetitif terhadap hasil quantum annealer D-Wave — dan sebagian perhitungannya bahkan bisa dijalankan di laptop pribadi, bukan superkomputer klasik. Efeknya langsung terasa: kalau simulasi yang katanya mustahil itu ternyata bisa ditiru dengan matematika yang lebih pintar, maka klaim "beyond-classical" dari Maret 2025 kehilangan pijakannya.
D-Wave membalas: klaim itu tidak akurat
D-Wave tidak diam. Dalam siaran pers resminya, perusahaan menegaskan bahwa narasi "hasil kami telah dipatahkan" tidak akurat dan tidak didukung catatan ilmiah yang sebenarnya. Argumen inti D-Wave: pekerjaan Tindall dkk. tidak mencoba geometri lattice paling kompleks yang mereka uji, tidak mereproduksi simulasi 3D terbesar dalam makalah asli, tidak mensimulasikan ensemble presisi-rendah tempat korelasi tumbuh paling cepat, dan tidak menghasilkan observable orde-empat serta full-state yang jadi bagian inti klaim Science mereka.
Dengan kata lain, D-Wave tidak membantah bahwa tim Flatiron berhasil mencocokkan sebagian hasil mereka — tapi bersikeras bahwa "sebagian" itu jauh dari cakupan penuh yang dulu diklaim mustahil ditiru. Ini jadi perdebatan yang tidak akan selesai lewat siaran pers satu-dua paragraf: kedua pihak sama-sama mengklaim jurnal Science yang sama sebagai rujukan, tinggal menunggu apakah ada makalah balasan lanjutan atau replikasi independen dari kelompok riset lain.
Takeaway
Ini bukan cerita "laptop mengalahkan komputer kuantum" yang rapi seperti judul-judul viral menyiratkan — tapi juga bukan sekadar drama akademik tanpa taruhan nyata. D-Wave adalah perusahaan publik (QBTS) yang nilai pasarnya sebagian bertumpu pada narasi keunggulan kuantum yang bisa dibuktikan; setiap kali klaim semacam itu dipertanyakan secara terbuka di jurnal sekelas Science, batas antara "apa yang cuma bisa dilakukan komputer kuantum" dan "apa yang classical computing belum sempat optimalkan" bergeser lagi. Buat siapa pun yang mengikuti industri komputasi kuantum, pelajarannya konsisten dari 2019 sampai sekarang: klaim supremasi paling aman diperlakukan sebagai starting gun untuk perlombaan algoritma klasik berikutnya, bukan garis akhir.
---
Sumber gambar: Igor Omilaev di Unsplash, Growtika di Unsplash, Annie Spratt di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.