Lima. Itu jumlah total putaran pendanaan startup yang tercatat di Indonesia sepanjang kuartal pertama 2026 — angka terendah dalam seluruh basis data DealStreetAsia untuk pasar yang dulu disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara (DealStreetAsia). Bukan penurunan bertahap yang bisa dianggap koreksi musiman: ini titik paling sepi yang pernah tercatat, dan ia datang di tengah bayang-bangan skandal keuangan terbesar yang pernah menimpa startup nasional.
Angka yang Bikin Investor Mengernyit
Kementerian Perindustrian mencatat total pendanaan startup nasional sepanjang 2025 hanya menyentuh sekitar US$355 juta, anjlok 49 persen dibanding US$695 juta pada 2024 — setara penurunan sekitar Rp6,09 triliun dalam pembiayaan yang tersedia untuk startup dalam negeri (RRI.co.id), (detikFinance). Tren itu tidak membaik memasuki 2026: dari total pendanaan startup Asia Tenggara, Indonesia cuma kebagian 6,3 persen — jauh dari porsi yang pernah dipegangnya sebagai pasar rujukan regional (DealStreetAsia).
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan startup. Kemenperin mencatat ada sekitar 3.100 startup aktif di dalam negeri — masalahnya bukan jumlah, tapi berapa dari mereka yang benar-benar bisa mengakses modal untuk bertahan dan tumbuh (Kompas). DealStreetAsia mencatat kemerosotan itu bukan sekadar soal sentimen makro global terhadap teknologi, melainkan juga persoalan kepercayaan yang lebih spesifik dan lebih dekat ke rumah.
Bayang-Bayang Skandal eFishery yang Belum Hilang
Persoalan kepercayaan itu punya nama: eFishery. Pengadilan Negeri Bandung memvonis mantan CEO eFishery, Gibran Huzaifah, sembilan tahun penjara pada 29 April 2026 atas kasus penggelapan dan pencucian uang, setelah investigasi internal menemukan perusahaan memanipulasi laporan keuangannya secara masif — mengklaim pendapatan sembilan bulan pertama 2024 sebesar US$752 juta, padahal angka sebenarnya hanya US$157 juta (CNBC Indonesia). Perusahaan bahkan disebut mengklaim mengoperasikan 400 ribu fasilitas pemberian pakan otomatis, padahal yang benar-benar ada di lapangan cuma sekitar 24 ribu.
eFishery pernah jadi kebanggaan — startup akuakultur unicorn yang menarik investor global sekaliber SoftBank dan Temasek. Begitu manipulasinya terbongkar, dampaknya menjalar jauh melampaui satu perusahaan: DealStreetAsia mencatat kasus ini ikut memicu kekhawatiran tata kelola (governance) yang lebih luas di kalangan investor terhadap startup Indonesia secara umum, tepat di saat mereka sudah lebih berhati-hati soal model bisnis yang mengandalkan bakar uang (DealStreetAsia). Efeknya bukan cuma pada eFishery — investor kini menuntut audit dan transparansi laporan keuangan yang jauh lebih ketat sebelum mencairkan dana ke startup mana pun di Indonesia.
Kemenperin Turun Tangan: Tiga Arahan Menperin
Merespons tren ini, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengeluarkan tiga arahan untuk memperkuat ekosistem startup nasional, dengan penekanan eksplisit bahwa yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar pertumbuhan jumlah startup, melainkan startup yang mampu bertahan dan menjawab kebutuhan industri secara nyata (Antara News). Arahan pertama mendorong seluruh unit di Kemenperin mengubah pendekatan dari sekadar "membina" startup menjadi menjadikan industri nasional sebagai pasar pertama bagi produk mereka — dengan kata lain, memastikan ada pembeli nyata, bukan cuma mentor dan panggung demo. Arahan kedua mendorong startup menguasai teknologi yang benar-benar dibutuhkan industri sambil meningkatkan kelayakan investasi mereka di mata pemodal. Arahan ketiga berfokus pada penguasaan teknologi strategis dan penguatan kolaborasi antar pelaku ekosistem.
Pendekatan ini secara implisit mengakui bahwa program-program pembinaan startup selama ini — akselerator, kompetisi pitching, sertifikat inkubasi — tidak cukup untuk menghadapi musim dingin pendanaan seperti sekarang. Yang diminta pemerintah sekarang adalah bukti permintaan pasar riil, bukan janji pertumbuhan di atas kertas seperti yang pernah dijual eFishery.
GoTo Jadi Bukti Ada Jalan Lain
Di tengah suramnya data agregat, satu nama tampil sebagai pengecualian yang mencolok: GoTo Group. Raksasa teknologi yang sahamnya melantai di bursa ini mencatat laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II 2026 — laba dua kuartal berturut-turut, naik 47 persen dibanding kuartal sebelumnya (RRI.co.id). Motor utamanya bukan lagi bisnis on-demand seperti ojek dan pesan-antar makanan yang selama bertahun-tahun jadi ciri khas GoTo, melainkan fintech: EBITDA bisnis GoPay melonjak 447 persen secara tahunan menjadi Rp481 miliar, dengan jumlah transaksi tumbuh 91 persen menjadi 2,4 miliar transaksi dalam satu kuartal — untuk pertama kalinya kontribusi profitabilitas fintech melampaui lini on-demand.
EBITDA grup yang disesuaikan pun melesat 137 persen secara tahunan, menembus Rp1 triliun untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan. Yang membuat pencapaian ini relevan di tengah musim dingin pendanaan bukan cuma angkanya, tapi jalannya: GoTo sampai ke sana lewat disiplin biaya dan diversifikasi ke fintech yang menghasilkan margin lebih sehat — persis arah yang sekarang dituntut investor dari startup yang lebih kecil, dan persis yang gagal ditunjukkan eFishery ketika angkanya justru dipalsukan demi terlihat seperti itu.
Takeaway
Musim dingin pendanaan startup Indonesia bukan sekadar efek sentimen global terhadap saham teknologi — ia diperparah oleh krisis kepercayaan yang sangat spesifik: skandal manipulasi laporan keuangan eFishery yang membuat investor menuntut tata kelola dan bukti profitabilitas yang jauh lebih ketat. Kemenperin merespons dengan mendorong startup mencari pasar nyata di industri dalam negeri, bukan sekadar mengejar valuasi. GoTo, dengan dua kuartal laba berturut-turut yang ditopang fintech, menjadi bukti bahwa jalan keluar dari musim dingin ini ada — tapi jalannya lewat disiplin operasional dan angka yang bisa diverifikasi, bukan cerita pertumbuhan yang terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan.
---
Sumber gambar: Tim van der Kuip di Unsplash Sumber gambar: Annie Spratt di Unsplash Sumber gambar: Austin Distel di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.