Selama ini kripto di Indonesia identik dengan satu hal: trading. Beli rendah, jual tinggi, cek harga Bitcoin tiap pagi. Tapi pada 7 September 2026, OJK mengumumkan sesuatu yang mengarah ke hal yang jauh lebih membosankan sekaligus jauh lebih penting — tujuh model bisnis baru resmi lulus dari regulatory sandbox-nya, dan tidak satu pun dari ketujuhnya tentang trading (Antara).
Dari Bursa ke Infrastruktur
Ketujuh peserta yang lulus uji coba sandbox itu mencakup tokenisasi emas, tokenisasi surat berharga lewat skema kontrak pengelolaan dana, tokenisasi manfaat kepemilikan properti, penerbit stablecoin rupiah, kustodian aset keuangan digital non-perdagangan, dan manajer dana kripto (Warta Ekonomi). Perbedaannya dengan bursa kripto yang sudah ada jelas: ini bukan tempat orang jual-beli token yang harganya naik turun, tapi infrastruktur yang mengubah aset riil — emas fisik, surat utang, hak sewa properti — jadi catatan digital di blockchain, plus satu penerbit yang mencoba membuat token yang nilainya sengaja dipatok tetap ke rupiah.
Implikasinya langsung praktis: penyelenggara lain dengan model bisnis serupa sekarang bisa langsung mendaftar ke OJK tanpa perlu menjalani sandbox dari nol lagi (Antara). OJK sendiri belum merampungkan aturan turunannya — Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut pada 24 September 2026 bahwa sandbox masih menguji kombinasi lain, termasuk tokenisasi SBN dan dana kripto, berdampingan dengan RPOJK tokenisasi aset riil yang sedang disiapkan (CNN Indonesia).
Pipa yang Mengantre di Belakang
Tujuh yang lulus ini bukan satu-satunya yang mengetuk pintu OJK. Sejak POJK 3/2024 berlaku, OJK sudah menerima 372 permintaan konsultasi soal aset keuangan digital hingga 30 September 2026, dengan empat peserta lain masih menjalani uji coba dan lima aplikasi lagi sedang dievaluasi (CNN Indonesia). Angka itu penting karena menunjukkan sandbox bukan formalitas satu kali jalan — ini jadi pintu masuk standar buat siapa pun yang mau menawarkan produk aset digital di luar trading biasa, dan antreannya jauh lebih panjang dari tujuh yang baru lulus.
Momentum regulasi ini juga menyusul konsolidasi pengawasan yang baru setahun seumurnya: sejak 20 Januari 2026, pengawasan aset kripto resmi pindah penuh ke OJK, lepas dari Bappebti. Jadi sandbox ini bukan proyek sampingan — ini cara OJK membuktikan ke industri bahwa otoritas tunggal yang baru bisa benar-benar memproses inovasi, bukan cuma memindahkan stempel dari satu kantor ke kantor lain.
Trading Justru Berbalik Naik
Yang membuat timing-nya makin menarik: pengumuman sandbox ini muncul tepat ketika data transaksi menunjukkan tren yang berbalik arah. Nilai transaksi aset kripto nasional sempat turun beruntun sejak awal tahun — dari Rp28,58 triliun di Juni ke Rp20,52 triliun di Juli — tapi pada Agustus 2026 melonjak 12,87% secara bulanan jadi Rp23,16 triliun, kenaikan bulanan pertama setelah tren turun itu (Kontan). Transaksi derivatif aset keuangan digital melonjak lebih tajam lagi, naik 33,76% jadi Rp4,56 triliun, sementara jumlah akun konsumen kripto bertambah jadi 23,21 juta.
Data ini keluar lewat konferensi pers RDK Bulanan OJK pada awal Oktober, cuma beberapa minggu setelah pengumuman sandbox. Belum ada yang bisa memastikan dua angka ini saling menyebabkan satu sama lain — kenaikan harga aset kripto global di periode yang sama jelas ikut berperan. Tapi gambaran besarnya cukup jelas: regulator yang tadinya dikenal lamban soal kripto kini mendorong dua jalur sekaligus — memperketat basis hukum untuk produk baru yang lebih dari sekadar trading, sementara pasar trading yang sudah ada mulai pulih dari pelemahan berbulan-bulan.
Takeaway
Tujuh model bisnis yang lulus sandbox OJK ini kecil secara jumlah, tapi menandai pergeseran arah: dari kripto sebagai arena spekulasi harga, ke kripto sebagai lapisan infrastruktur buat aset riil — emas, surat utang, properti — plus satu stablecoin yang sengaja dirancang anti-volatil. Dengan 372 permintaan konsultasi lain yang masih mengantre dan aturan turunannya belum final, yang lolos sandbox hari ini baru permulaan dari daftar yang jauh lebih panjang akan datang.
---
Sumber gambar: Rodion Kutsaiev di Unsplash Sumber gambar: Austin Distel di Unsplash Sumber gambar: imgix di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.