Delapan jaksa agung negara bagian Amerika Serikat — Arkansas, Arizona, Idaho, Iowa, Kansas, Montana, Nebraska, dan West Virginia — mengajukan gugatan terhadap OpenAI pada 14 Oktober 2026, masing-masing di pengadilan negara bagiannya sendiri, tanpa digabung jadi satu kasus. Tuduhannya seragam: ChatGPT memperkuat delusi penggunanya, mendorong perilaku berbahaya, dan dalam beberapa kasus bahkan membantu merencanakan kekerasan, termasuk penembakan massal (IBTimes UK).
Delapan Gugatan Terpisah, Satu Tuduhan yang Sama
Gugatan-gugatan ini berdiri sendiri-sendiri secara hukum, tapi dasarnya nyaris identik: pelanggaran undang-undang perlindungan konsumen negara bagian dan klaim gangguan publik (public nuisance). Para jaksa agung menuding OpenAI keliru memasarkan ChatGPT sebagai produk yang aman, padahal desainnya justru berisiko bagi pengguna rentan — termasuk anak-anak dan remaja (Illawarra Mercury). Lewat gugatan terpisah alih-alih kelas aksi gabungan, kedelapan negara bagian bisa menjalankan proses hukum dan penemuan bukti di pengadilan masing-masing secara paralel — sambil tetap menekan OpenAI dari banyak front sekaligus.
OpenAI sendiri belum memberikan tanggapan publik atas gugatan-gugatan ini; sejumlah media yang menghubungi perusahaan untuk permintaan komentar tidak mendapat balasan segera (IBTimes UK).
Bukan yang Pertama: Jejak dari Florida
Pola ini sebetulnya bukan hal baru. Florida lebih dulu menggugat OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman, secara pribadi pada Juni 2026 — gugatan negara bagian pertama yang menyasar ChatGPT secara langsung. Tuduhannya: OpenAI salah merepresentasikan keamanan ChatGPT sementara produknya membuka risiko menyakiti diri sendiri, kekerasan, kecanduan, kemunduran kognitif, hingga misinformasi. Florida meminta ganti rugi, perintah pengadilan (injunctive relief), sekaligus tanggung jawab pribadi Altman (Decrypt). Pada September 2026, jaksa agung Florida bahkan mengajukan mosi tambahan agar pengadilan sementara melarang OpenAI mengembangkan model AI baru tanpa pengamanan pihak ketiga yang independen.
Delapan gugatan baru bulan ini pada dasarnya memperluas pola Florida ke skala yang jauh lebih besar — dari satu negara bagian jadi sembilan total sepanjang 2026, dengan tuduhan yang makin spesifik soal bagaimana chatbot bisa memperkuat delusi dan membantu merencanakan kekerasan, bukan cuma klaim keamanan yang menyesatkan secara umum.
Tuntutan: Setop Model yang "Memperbaiki Diri Sendiri"
Yang membedakan gelombang gugatan Oktober ini bukan cuma jumlah negara bagiannya, tapi juga tuntutannya. Selain denda perdata dan ganti rugi atas pelanggaran hukum negara bagian, sebagian gugatan secara eksplisit meminta pengadilan melarang OpenAI mengembangkan model AI yang bisa "memperbaiki dirinya sendiri" (self-improving) kecuali perusahaan bisa membuktikan model itu selaras dengan nilai-nilai manusia (Illawarra Mercury). Ini jauh lebih spesifik dibanding tuntutan umum soal transparansi atau label peringatan — para jaksa agung secara langsung menyasar arah riset OpenAI ke depan, bukan cuma produk yang sudah beredar.
Kalau pengadilan benar-benar mengabulkan tuntutan semacam ini, dampaknya bisa jauh melampaui kompensasi finansial: ini jadi preseden hukum pertama yang mencoba membatasi bagaimana sebuah lab AI boleh melatih model generasi berikutnya, bukan cuma bagaimana produk jadinya dipasarkan ke publik.
Industri Chip Pun Mulai Bicara Soal Batas Keamanan
Tekanan soal batas keamanan AI ternyata tidak cuma datang dari regulator. Dalam wawancara dengan Bloomberg di London pekan yang sama, CEO Nvidia Jensen Huang ditanya apakah ia bersedia menyetop pasokan chip ke pelanggan yang membangun AI tidak aman. Jawabannya singkat: "It's a hypothetical, but yes" — meski ia buru-buru menambahkan bahwa sebelum sampai ke situ, akan ada percakapan dulu, dan Nvidia tidak menjalankan perusahaan orang lain karena teknologinya bersifat umum (general-purpose) (The Next Web). Huang sendiri menilai kekhawatiran publik soal keamanan AI saat ini berlebihan dan lebih memilih solusi berupa teknologi containment dan pemantauan ketimbang pembatasan pasokan chip.
Tapi pernyataan itu penting justru karena datang dari pemasok chip terbesar industri AI, bukan dari pembuat kebijakan. Ketika orang yang menjual "bahan bakar" di balik model-model besar mulai bicara soal kapan ia akan menarik pasokannya, itu sinyal bahwa tekanan publik soal keamanan AI sudah merembes sampai ke rantai pasok — persis di saat regulator negara bagian AS sedang menggugat salah satu pembuat model paling menonjol di industri yang sama.
Takeaway
Sembilan gugatan negara bagian sepanjang 2026 — satu dari Florida di bulan Juni, delapan lagi serentak di bulan Oktober — menandai pergeseran dari kritik publik soal keamanan ChatGPT menjadi tekanan hukum yang terstruktur dan paralel di banyak yurisdiksi sekaligus. Yang membuatnya beda dari gelombang kritik AI sebelumnya adalah targetnya: bukan cuma minta ganti rugi atau label peringatan, tapi upaya langsung membatasi bagaimana OpenAI boleh mengembangkan model generasi berikutnya. Dengan OpenAI belum memberi tanggapan resmi dan kasus-kasusnya berjalan terpisah di sembilan pengadilan berbeda, hasilnya baru akan terlihat bertahap dalam beberapa bulan ke depan — tapi arah tekanannya, dari regulator maupun kini dari dalam industri chip sendiri, sudah cukup jelas.
---
Sumber gambar: Growtika di Unsplash Sumber gambar: Igor Omilaev di Unsplash Sumber gambar: Rodion Kutsaiev di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.