Selasa, 4 Agustus 2026, tiga hakim Pengadilan Banding Sirkuit ke-9 Amerika Serikat menjawab satu pertanyaan yang selama ini belum pernah dijawab pengadilan federal mana pun: ketika Anda menyuruh agen AI membelikan sesuatu di Amazon, siapa yang sebenarnya "mengakses" situs itu — Anda, atau robotnya? Jawabannya membalikkan larangan lima bulan yang sempat memblokir Comet, browser AI milik Perplexity, dari Amazon.com (Courthouse News).
Putusan ini bukan sekadar kemenangan satu perusahaan atas perusahaan lain. Ia jadi kerangka hukum pertama yang mengatur tanggung jawab agen AI otonom di ranah agentic commerce — bidang yang baru berumur hitungan bulan tapi sudah menyeret raksasa e-commerce dan startup AI ke ruang sidang federal.
Dari Larangan Maret ke Pembalikan Agustus
Sengketa ini bermula November 2025, ketika Amazon menggugat Perplexity dengan tuduhan Comet melanggar ketentuan layanan, merusak pengalaman belanja, dan membuka celah privasi. Menurut Amazon, kedua perusahaan sempat sepakat menjeda fitur belanja agentik pada 2024 — tapi Perplexity dituduh mengingkari kesepakatan itu dengan mengaktifkan kembali Comet dan menyamarkannya sebagai browser Chrome biasa (CNBC).
Pada 10 Maret 2026, Hakim Distrik Maxine Chesney mengabulkan permohonan injunksi awal Amazon, memblokir Comet dari halaman-halaman Amazon yang dilindungi kata sandi — termasuk akun, riwayat pesanan, dan checkout. Chesney saat itu menulis Amazon punya "bukti kuat" bahwa Comet mengakses situsnya atas perintah pengguna, tapi "tanpa otorisasi" dari Amazon sendiri (CNBC).
Lima bulan kemudian, panel tiga hakim Sirkuit ke-9 membatalkan injunksi itu. Dalam opini setebal 21 halaman yang ditulis Hakim Milan Smith dan disepakati dua hakim lain, pengadilan menyimpulkan Amazon kemungkinan besar tidak akan menang jika kasus ini dilanjutkan ke pengadilan penuh (PYMNTS).
Argumen Inti: yang Mengakses Adalah Pengguna, Bukan Agennya
Inti putusan ini terletak pada tafsir Computer Fraud and Abuse Act (CFAA) — undang-undang federal soal akses ilegal ke sistem komputer — dan padanannya di California, CDAFA. Amazon berargumen Comet mengakses server Amazon "tanpa otorisasi." Sirkuit ke-9 tidak setuju: menurut panel hakim, yang benar-benar mengakses sistem Amazon adalah pengguna manusia yang memakai Comet sebagai alat, bukan Perplexity atau AI agent itu sendiri (PYMNTS).
Hakim Smith menulis, injunksi semacam itu "akan mengganggu pilihan konsumen dan tanpa perlu membatasi pengembangan teknologi yang masih baru." Panel juga secara terbuka mengakui posisi mereka berada di wilayah hukum yang nyaris kosong: "nyaris tidak ada preseden yang secara langsung membahas bagaimana melekatkan tanggung jawab pada agen AI seperti Assistant ini, apalagi preseden yang khusus membahas AI agentik dalam konteks CFAA" (Wilson Sonsini).
Yang penting dicatat: pengadilan menegaskan putusannya sempit dan bukan cek kosong untuk semua agen AI ke depannya. Analisis firma hukum Wilson Sonsini mencatat pengadilan sendiri mengakui bahwa hukum seputar AI agentik "pasti akan berubah" seiring teknologi ini berkembang — putusan ini kerangka awal, bukan kata akhir (Wilson Sonsini).
Kenapa Ini Lebih Besar dari Sekadar Amazon vs Perplexity
Putusan ini disebut media hukum dan teknologi sebagai putusan banding federal pertama yang secara langsung membahas apakah agen AI yang bertindak atas nama pengguna boleh mengakses platform online tanpa izin eksplisit dari pemilik platform tersebut. Bagi startup agentic commerce lain — dari asisten belanja sampai bot pemesanan tiket — ini jadi acuan pertama soal batas hukum yang bisa mereka pijak, meski panel sendiri menekankan cakupannya masih sempit (Courthouse News).
Bagi platform seperti Amazon, implikasinya juga langsung: mengandalkan gugatan CFAA untuk memblokir agen AI pihak ketiga dari situsnya jadi jauh lebih sulit setelah putusan ini — mereka harus mencari jalur hukum lain (pelanggaran ketentuan layanan, misalnya) ketimbang tuduhan akses ilegal. Ini bukan berarti platform kehilangan semua alat kontrol, tapi salah satu senjata hukum paling tajam mereka baru saja ditumpulkan pengadilan federal.
Kasusnya Belum Selesai, dan EFF Sudah Ikut Campur
Electronic Frontier Foundation (EFF) ikut mengajukan amicus brief bulan April lalu, jauh sebelum putusan turun, dengan argumen yang pada dasarnya sama dengan yang akhirnya dipakai Sirkuit ke-9: "pengembang seperti Perplexity memfasilitasi akses itu dengan membuat alat yang memungkinkan pengguna benar-benar berinteraksi dengan web" — bukan menggantikan pengguna sebagai pihak yang mengakses (EFF). Bagi EFF, kasus ini soal yang lebih besar dari sekadar Comet: kalau Amazon menang, preseden itu berisiko dipakai untuk mengkriminalkan pembuat browser dan scraper lain yang sebetulnya cuma jadi alat bantu manusia menjelajah web.
Yang penting digarisbawahi: putusan ini tidak menutup kasusnya sepenuhnya. Sirkuit ke-9 hanya membahas dua teori CFAA dan CDAFA — klaim Amazon soal pelanggaran kontrak dan ketentuan layanan tetap berjalan di pengadilan distrik, begitu juga klaim soal merek dagang milik Amazon yang tidak ikut dibatalkan. Amazon masih bisa menempuh jalur hukum lain, atau mengandalkan pembatasan teknis di sisi situsnya sendiri, untuk membatasi Comet ke depannya (PYMNTS).
Takeaway
Untuk pertama kalinya, pengadilan banding federal AS menjawab pertanyaan tanggung jawab hukum agen AI belanja: bukan si AI yang "mengakses" situs, melainkan manusia yang memerintahkannya — dan itu, menurut Sirkuit ke-9, cukup untuk membatalkan larangan Amazon terhadap Comet milik Perplexity. Putusan ini sempit dan pengadilan sendiri mengakui hukum di area ini masih akan terus berubah, tapi untuk sekarang ia jadi preseden pertama yang dipegang siapa pun yang membangun agen AI otonom di ranah e-commerce — dan peringatan bagi platform yang berharap gugatan akses ilegal bisa jadi tameng otomatis melawan bot pihak ketiga.
---
Sumber gambar: Igor Omilaev di Unsplash Sumber gambar: Christopher Gower di Unsplash Sumber gambar: Vojtech Bruzek di Unsplash
The conversation 0
No comments yet. Start the conversation.