Uber PHK 3.300 Karyawan Saat Bisnis Sedang Untung — Semua demi Robotaxi

Tiga ribu tiga ratus. Itu jumlah karyawan yang baru saja kehilangan pekerjaan di Uber — bukan karena perusahaan sedang kesulitan, tapi persis sebaliknya. Dalam memo internal yang dikirim Rabu (2/9), CEO Dara Khosrowshahi mengumumkan pemangkasan sekitar 10 persen dari total tenaga kerja global Uber, PHK terbesar sejak awal pandemi COVID-19 (Al Jazeera), (TechCrunch). Uang yang dihemat akan dialihkan ke satu taruhan besar: robotaxi.

Isi Memo: Bukan Soal Uang, Tapi Soal Lapisan

Yang membuat PHK ini berbeda dari gelombang pemangkasan tenaga kerja teknologi sebelumnya adalah alasan yang dipakai Khosrowshahi. Menurut memo yang ia kirim, pertumbuhan Uber selama bertahun-tahun justru menciptakan struktur yang makin berat: "lebih banyak lapisan, lebih banyak koordinasi, kepemilikan yang makin terfragmentasi, dan dalam beberapa kasus struktur yang dulu masuk akal ketika bisnis masih lebih kecil, tapi sekarang tidak lagi melayani kita dengan baik pada skala kita saat ini" (TechCrunch).

Restrukturisasi ini menyasar manajemen secara spesifik: jumlah manajer akan dipangkas 20 persen, dengan sebagian dari mereka beralih menjadi individual contributor alih-alih memimpin tim (Bloomberg). Tim yang hanya beranggotakan satu atau dua orang akan dipangkas separuh, dan karyawan yang posisinya lebih dari tujuh lapisan di bawah CEO ikut kena dampak (The National). Dengan kata lain, ini bukan pemangkasan karena pendapatan turun — laporan keuangan Uber sendiri tetap sehat — melainkan operasi bedah organisasi yang disengaja untuk membuat perusahaan lebih ramping.

Ke Mana Uangnya Pergi: Perang Robotaxi Senilai $10 Miliar Lebih

Jawaban Khosrowshahi cukup gamblang: dana dan fokus yang dilepas dari lapisan manajemen akan dialihkan ke ride-sharing, pengantaran, dan yang paling ambisius — robotaxi (PYMNTS). Uber sudah menjanjikan komitmen lebih dari $10 miliar untuk kemitraan kendaraan otonom dalam beberapa tahun ke depan, dengan lebih dari $7,5 miliar dialokasikan untuk pengadaan armada dan sekitar $2,5 miliar lagi dalam bentuk investasi ekuitas yang diikat pada target-target peluncuran layanan (Smart Cities Dive).

Portofolio kemitraan itu sudah mencakup lebih dari selusin mitra, termasuk Lucid Motors (investasi total $500 juta, pemesanan minimal 35.000 unit), Nuro, Rivian, dan Baidu asal Tiongkok, dengan rencana meluncurkan layanan robotaxi di setidaknya 15 kota sepanjang 2026 (Benzinga). Yang menarik, hubungan Uber dengan Waymo — mitra robotaxi lamanya lewat Alphabet — justru mendingin di saat yang sama: Waymo dilaporkan diam-diam menghentikan kerja sama layanan robotaxi dan pengantaran makanannya di Phoenix pada Mei lalu, dan memberi tahu Uber soal rencana meluncurkan aplikasinya sendiri di Austin dan Atlanta mulai Januari 2028 (Electrek). Uber tampaknya memilih membangun armada otonomnya sendiri ketimbang terus bergantung pada mitra yang berpotensi jadi pesaing langsung.

Papan sirkuit biru, melambangkan lonjakan investasi ke teknologi kendaraan otonom yang kini jadi prioritas utama Uber
Papan sirkuit biru, melambangkan lonjakan investasi ke teknologi kendaraan otonom yang kini jadi prioritas utama Uber

Pola yang Lebih Besar: PHK di Tengah Kinerja Bagus

Uber bukan kasus tunggal. PHK yang terjadi justru ketika kinerja bisnis sedang baik — bukan sebagai respons krisis — makin jadi pola berulang di industri teknologi sepanjang 2026, seiring perusahaan-perusahaan besar mengalihkan modal dari tenaga kerja manusia ke infrastruktur otomatisasi dan AI. Bedanya, taruhan Uber punya bentuk yang sangat konkret dan bisa diukur: setiap dolar yang tidak lagi dibelanjakan untuk gaji manajer di lapisan ketujuh dari CEO, secara eksplisit diarahkan ke armada kendaraan yang suatu hari nanti tidak lagi membutuhkan pengemudi manusia — profesi yang selama ini justru jadi sumber pendapatan inti Uber lewat jutaan mitra pengemudinya.

Ironi itu tidak luput dari sorotan: media yang meliput memo ini mencatat bahwa PHK terjadi persis ketika bisnis Uber, menurut kata-kata Khosrowshahi sendiri, "sedang berjalan sangat baik" — sebuah pengakuan langsung dari CEO bahwa pemangkasan ini murni pilihan strategis, bukan keterpaksaan finansial.

Orang memegang smartphone, melambangkan jutaan pelanggan yang terus memesan lewat aplikasi sementara perusahaan di baliknya merombak organisasinya
Orang memegang smartphone, melambangkan jutaan pelanggan yang terus memesan lewat aplikasi sementara perusahaan di baliknya merombak organisasinya

Takeaway

PHK 3.300 karyawan Uber bukan cerita krisis, melainkan cerita prioritas: perusahaan yang secara finansial sehat memilih memangkas lapisan manajemennya sendiri demi mempercepat taruhan besar pada robotaxi senilai lebih dari $10 miliar, bahkan sampai rela merenggangkan hubungan dengan mitra lama seperti Waymo demi membangun armada otonom sendiri. Bagi karyawan yang terkena dampak, alasan "struktur yang tidak lagi melayani kita dengan baik" mungkin terdengar seperti eufemisme — tapi bagi arah bisnis Uber lima tahun ke depan, jelas terlihat: manusia di posisi manajerial jadi ongkos yang dipangkas terlebih dulu, sebelum manusia di kursi pengemudi.

---

Sumber gambar: William Hook di Unsplash Sumber gambar: Umberto di Unsplash Sumber gambar: Rodion Kutsaiev di Unsplash

The conversation 0

No comments yet. Start the conversation.

Comments are reviewed before appearing. Links are masked.