Amazon menyanggupi belanja hingga $60 miliar untuk chip AI kustom Qualcomm hingga 2036, sekaligus menerima waran saham senilai sekitar $4 miliar — kesepakatan terbesar yang pernah diteken Qualcomm di luar bisnis ponsel.
Startup infrastruktur AI yang dulunya penambang bitcoin bertenaga gas flare ini menaikkan valuasinya tiga kali lipat dalam 10 bulan, didorong satu kontrak cloud raksasa dari firma trading kuantitatif Jane Street.
Anthropic tak lagi membangun sendiri data center-nya — lewat Theseus Infrastructure, Macquarie dan GIC yang menanggung mayoritas modalnya, sementara Anthropic cukup jadi penyewa jangka panjang.
Nvidia dikabarkan bernegosiasi memberi jaminan finansial hingga $250 miliar agar OpenAI bisa membiayai kampus data center 10 gigawatt di Ohio, plus pembiayaan chip terpisah senilai $350 miliar — total transaksi berpotensi tembus $600 miliar.
Investigasi Nikkei Asia menemukan lima raksasa teknologi AS menumpuk $1,65 triliun kewajiban di luar neraca lewat kontrak sewa data center dan pasokan GPU — melebihi utang resmi yang mereka laporkan ke publik.
Sebuah startup asal Australia menandatangani komitmen $25–30 miliar dengan Nvidia untuk kampus AI seluas 360 megawatt di Batam — dan itu cuma satu dari gelombang investasi data center yang kini mengalir deras ke Indonesia.
Satu klaster semikonduktor di Korea Selatan butuh listrik hampir seperempat kebutuhan Seoul, sementara pasokan air di lokasi pabriknya sudah defisit — mengancam rencana investasi chip AI terbesar dalam sejarah negara itu.